Sabtu, 25 November 2017, 01:28:11 WIB

Idul Fitri, Dari Teologis ke Sosiologis

01 July 2017 11:04:46 WIB - Sumber : Faisal Zaini Dahlan - Dosen Jurusan Studi Agama-Agama IAIN Imam Bonjol Padang - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 2477 kali

Menurut almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid) dalam buku 30 Sajian Ruhani Renungan di Bulan Ramadhan (2007), setiap ibadah dalam Islam selalu memiliki korelasi positif dengan amal saleh yang berdimensi kemanusiaan. Karakteristik ini tampak dalam shalat, haji, puasa, dan ibadah lainnya. Shalat misalnya, jelas Cak Nur, diawali dengan takbir sebagai simbolisasi hubungan vertikal dengan Allah, tetapi kemudian diakhiri dengan salam yang bermakna horizontal memberi kesejahteraan kepada manusia bahkan alam raya. Artinya, salam sebagai dimensi konsekuensikal ibadah shalat, merupakan wujud dan tanggungjawab tugas-tugas kemanusiaan yang harus ditunaikan oleh seorang muslim setelah selesai melaksanakan shalat.

Dari Puasa ke Zakat Fitrah; Dimensi Teologis

Puasa merupakan ibadah personal yang terkait langsung dengan dimensi vertikal secara utuh. Nilai, keabsahan, bahkan pelaksanaan ibadah ini penuh misteri yang hanya diketahui oleh si pelaku dan Tuhan. Karena itu dalam sebuah hadis qudsi, Allah menegaskan bahwa puasa adalah untuk-Nya, karena itu Dia lah yang akan menentukan nilai serta ganjaran puasa seseorang. Secara lahiriah, sejatinya seseorang sangat potensial untuk melakukan pembohongan publik, tebar pesona, ataupun pencitraan seolah-olah berpuasa sehingga mendapat simpati. Tetapi secara batiniah, bisa dipastikan bahwa kepura-puraan tersebut tidak akan memberi efek positif apapun, bahkan akan memunculkan split personality yang mengganggu kejiwaan.

Dalam konteks ini, puasa yang dimulai dari imsak hingga berbuka, murni berada pada wilayah teologis. Karena itu tidak diperlukan toleransi berlebihan yang justru mencederai nilai sakralitasnya. Tradisi sebagian kalangan yang mulai membudayakan buka bersama dengan melibatkan unsur lintas agama, bisa mengaburkan nilai ibadah puasa sendiri. Satu hal yang pasti bahwa berbuka merupakan rangkaian ibadah yang tidak bisa dipisahkan dari menahan (imsak) terhadap segala yang membatalkan puasa. Karena itu pada prinsipnya tidak ada berbuka bagi yang tidak berpuasa. Budaya buka bersama lintas agama, jelas sangat berpotensi mereduksi, bahkan mencerabut makna hakiki dari rangkaian ritual puasa, yang diawali dari imsak dan diakhiri dengan berbuka tersebut. Toleransi dalam bentuk ikut serta pada rangkaian ibadah puasa seperti berbuka ini, bahkan cenderung menjadi pembodohan beragama yang tidak pantas digagas apalagi ditradisikan.

Di akhir puasa terdapat kewajiban menunaikan zakar fitrah. Menurut Cak Nur, analogi salam dalam shalat, adalah zakat fitrah dalam puasa. Shalat tidak sah jika tidak diakhiri dengan salam yang bernilai kemanusiaan. Demikian pula puasa, hanya dipandang sah jika diakhiri dengan membayar zakat fitrah yang memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi. Rangkaian prosesi ibadah yang dimulai dari puasa sebagai relasi hamba dengan Tuhan itu, diakhiri dengan zakat fitrah sebagai relasi antar manusia. Artinya, kesempurnaan relasi dengan Tuhan hanya bisa diperoleh dengan menyempurnakan relasi antar sesama manusia.

Meski memiliki dimensi kemanusiaan, sekali lagi harus dipahami bahwa dalam konteks ini zakat fitrah masih merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari puasa. Karena itu, tidak diperlukan pula toleransi berupa keikutsertaan umat lintas agama menunaikan prosesi ritual ini. Sebagaimana tidak relevannya buka bersama lintas agama, maka sungguh tidak relevan pula zakat fitrah lintas agama, mengingat keduanya merupakan bagian dari rangkaian ibadah berdimensi teologis.  

Dari Idul Fitri ke Lebaran; Dimensi Sosiologis

Sejatinya, Idul Fitri adalah hari raya bagi mereka yang berpuasa saja. Makna Idul Fitri adalah “kembali berbuka” ataupun “kembali suci”. Kedua makna ini jelas menunjukkan bahwa Idul Fitri adalah milik mereka yang telah berjuang susah payah menahan segala yang membatalkan puasa sebulan penuh. Rangkaian ritual Idul Fitri ditandai dengan kumandang takbir kemenangan atas perang melawan hawa nafsu, berbuka, dan shalat Ied. Kemudian dilanjutkan dengan saling memberi tahniyah yang masih terkait dengan puasa, yakni berupa ucapan taqabbalallahu minna wa minkum, berharap kiranya Allah menerima ibadah puasa yang telah dilakukan sebelumnya.

Ritual Idul Fitri yang berdimensi teologis tersebut, telah melebar kepada dimensi sosiologis. Ekspresi kegembiraan yang dirayakan bersama, diiringi saling memaafkan secara massif. Muncul keinginan dan kerinduan untuk berinteraksi langsung sehingga dibutuhkan momen khusus untuk saling bertemu, terutama dengan keluarga yang selama ini terpisahkan tempat dan waktu. Kebijakan pemerintah mengapresiasi Idul Fitri dengan penetapan sejumlah hari libur, menjadi momentum akbar kebersamaan tahunan. Tradisi mudik di Idul Fitri pun telah menjadi bagian dari aktivitas rutin penuh persiapan. Bahkan akhir-akhir ini disemarakkan pula dengan reuni lintas generasi komunitas tertentu, terutama alumni lembaga pendidikan. Ini menyusuli tradisi hala bi halal yang selama ini umum dilakukan.

Semua itu pada akhirnya menjadikan Hari Raya Islam tersebut sebagai hari raya bersama, bahkan milik lintas agama. Inilah tampaknya yang lebih tepat disebut dengan Lebaran. Dalam konteks itulah kiranya perlu dibedakan antara keduanya, Idul Fitri dan Lebaran. Idul Fitri tetap merupakan rangkaian puasa dan sejatinya hanya milik mereka yang telah berpuasa. Sementara Lebaran telah menjelma menjadi milik semua. Dengan begitu, sakralitas ritual agama secara teologis tidak tergerus di satu sisi, sementara di sisi lain nilai-nilai sosiologis yang muncul kemudian, tetap terpelihara pula dengan baik. Wallahu a’lam. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co