Rabu, 22 November 2017, 08:55:41 WIB

Tantangan dan Peluang Kredit Perbankan 2017

12 January 2017 12:38 WIB - Sumber : JPNN - Editor :    Dibaca : 96 kali

Pertumbuhan ekonomi global yang membaik pada 2017 menjadi momentum ekspansi kredit perbankan. Saatnya perbankan nasional memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan lebih baik daripada 2016 oleh sejumlah lembaga internasional itu. Misalnya, dalam laporan World Bank, diproyeksikan pada 2017 ekonomi dunia tumbuh 2,8 persen. Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan proyeksi 2016 yang hanya mampu tumbuh 2,4 persen.

Hal senada diutarakan Dana Moneter Internasional (IMF). Perkiraan IMF, ekonomi global dapat tumbuh 3,4 persen atau lebih baik bila dibandingkan dengan 2016 yang hanya sebesar 3,1 persen. Laporan pendukung lain adalah proyeksi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Menurut OECD, pada 2017 ekonomi akan tumbuh 3,2 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan 2016 yang hanya sebesar 2,9 persen.

Perbankan harus menangkap sinyal positif dari pertumbuhan ekonomi global tersebut dengan memacu ekspansi kredit pada 2017. Ada beberapa hal yang menjadi tantangan dan peluang bagi perbankan untuk menggenjot ekspansi kredit. 

Pertama, permasalahan likuiditas. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed),yang berniat menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali pada 2017 menjadi masalah perbankan. 

Kebijakan The Fed akan memacu capital outflow yang bisa mengetatkan likuiditas pasar keuangan, termasuk di Indonesia. Jika likuiditas ketat, penyaluran kredit perbankan semakin terbatas. Ketatnya likuiditas terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) perbankan sepanjang 2016 yang sudah berada di ambang batas atas.

Kedua, kontroversi kebijakan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump akan membentengi ekonomi domestik dari serbuan produk asing lewat penerapan bea masuk tinggi terhadap produk sejumlah negara seperti Tiongkok. Dengan begitu, produk Tiongkok berpeluang membanjiri pasar domestik dan menggerus produk lokal.

Akibatnya, turunnya permintaan ekspor akan memukul perusahaan nasional, yang menyebabkan turunnya pendapatan debitor sehingga menunda pengajuan penambahan kredit atau pengajuan kredit baru.

Hal itu dikuatkan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pertumbuhan kredit perbankan nasional per November 2016 mencapai Rp 4.285 triliun atau mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 8,46 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit tersebut sepanjang 2016 diproyeksikan hanya 7–9 persen, terus menurun dari proyeksi awal yang sebesar 11–13 persen.

Ketiga, kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang masih membayangi 2017. Bank harus menyediakan pencadangan dalam jumlah besar, yang ujungnya menggerus laba. 

Kredit macet masih menjadi momok menakutkan, lebih-lebih kalau kurs rupiah terhadap dolar AS tertekan. Rasio kredit bermasalah per November 2016 sebesar 3,18 persen untuk gross  dan 1,38 persen untuk net. 

Keempat, maraknya financial technology (fintech) dan start-up menjadi ancaman perbankan. Fintech dan start-up melalui inovasi teknologi menawarkan jasa-jasa dan produk serupa bank. Dengan demikian, mereka mengambil ceruk pasar perbankan.

Selain tantangan tersebut, terdapat beberapa peluang dan prospek perbankan dalam melakukan ekspansi kredit 2017. Pertama, optimisme perbankan dalam menyikapi pertumbuhan bisnis pada 2017. Optimisme bisnis perbankan terlihat dari data rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan kepada OJK. Menurut OJK, pertumbuhan kredit 2017 meningkat sebesar 9–11 persen.

Angka itu lebih tinggi daripada proyeksi 2016 yang hanya sebesar 7–9 persen. Bahkan, Bank Indonesia (BI) lebih konfiden menyikapi pertumbuhan kredit perbankan dengan memproyeksikan laju kredit 2017 dengan tingkat pertumbuhan lebih tinggi, yaitu 10–12 persen.

Kedua, peran aktif pemerintah menggerakkan ekonomi nasional. Pemerintah telah menggelontorkan 14 paket kebijakan ekonomi bisnis dan program masterpiece amnesti pajak serta APBN 2017 yang responsif. 

Hal itu menjadi modal kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Ekonomi yang kondusif tersebut menjadi modal pelaku usaha untuk dapat menggerakkan sektor-sektor prioritas (termasuk di dalamnya sektor riil) yang tentu membutuhkan peran intermediasi perbankan. Peningkatan permintaan kredit produktif dari segmen  wholesale, middle, dan usaha kecil menengah (UKM), baik untuk kredit modal kerja (KMK) maupun kredit investasi (KI), disertai perbaikan serapan kredit konsumtif di sektor ritel.

Ketiga, tingkat kesehatan perbankan 2016 secara umum kian membaik. Menurut laporan OJK (3/1/2017), seluruh bank nasional berada dalam kondisi sehat dan cukup sehat pada 2016. Sebelumnya, pada 2015, ada satu bank yang dinyatakan kurang sehat. Kondisi kesehatan bank selama 2016 tersebut menjadi energi positif bagi perbankan untuk dapat lebih meningkatkan kinerja ekspansi kredit pada 2017.

Keempat, pemberlakuan suku bunga kredit single-digit. OJK dan BI terus mendorong industri perbankan untuk menerapkan suku bunga kredit single-digit hingga akhir Desember 2017. Hal tersebut merupakan stimulus pelaku usaha untuk dapat mengembangkan usaha melalui kredit bunga yang bisa terjangkau dan lunak.

Kelima, pemulihan harga komoditas. Harga komoditas diprediksi lebih menguat pada 2017 seiring dengan pertumbuhan ekonomi global dan masalah surplus pasokan yang kian berkurang. Komoditas utama yang mengalami tren bullish 2017 ialah minyak, tembaga, seng, dan gandum. Kondisi tersebut menyebabkan gairah ekonomi nasional yang mendorong kebutuhan pemenuhan modal perusahaan dari ekspansi kredit. Semoga. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co