Jumat, 20 October 2017, 06:48:53 WIB

Komitmen Guru Ngaji Muda di Kabupaten Solok

19 March 2017 11:53 WIB - Sumber : Riki Chandra - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 236 kali

Pancing Anak Muda ke Masjid, Bikin Mengaji Irama 

Budaya mengaji di surau dan masjid di kampung sudah lama berlangsung. Bahkan, ilmu agama dasar dipahami dari generasi ke generasi bersumber dari guru mengaji.

Begitu pemuda lebih eksis di masjid dibanding keluyuran tidak jelas. Di era 80 hingga 90-an, mayoritas pemuda Islam di Minangkabau tidur di masjid. Namun bagaimana kondisi sekarang di Kabupaten Solok?

Guru mengaji di Masjid Djamaluddin GOR Batutupang, Nagari Kotobaru, Andri Putra, 28, mengatakan geliat mengaji di masjid dan surau mulai tidak terlalu sejak tahun 2000-an.

Para pemuda lebih senang menghabiskan waktu di luar dan jalanan dibanding meramaikan masjid. Jangankan mengaji usai shalat Magrib, shalat berjamaahpun jarang sekali pemuda aktif.

“Semangat pemuda yang semakin pudar untuk memakmurkan masjid,” terang Andri.

Kendati demikian, Andri mengaku tidak putus asa, melainkan mencari cara untuk menarik minat pemuda kembali mengaji. Salah satunya, mengaktifkan mengaji irama serta, menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Seperti wirid remaja, dan Tablig Akbar. 

“Kalau wirid, lumayan banyak pemuda-pemudi yang hadir di masjid,” kata juri MTQ Kabupaten Solok itu.

Begitu juga mengaji irama, cukup banyak minat remaja yang ingin belajar seni Al Quran. Namun, kegiatan itu tidak rutin, hanya tiga kali dalam seminggu. “Setidaknya, mengaji irama membuat remaja mau kembali mengaji,” sebut mantan Qori Nasional itu.

Senada dengan itu, salah seorang guru irama di Pondok Al Quran Islamic Center Kotobaru, Zetra Zamzami, 27, mengatakan, geliat mengaji di surau dan masjid hanya dilakoni murid SD. Sedangkan para pemuda-pemudi terkesan enggan. 

“Ada juga, tapi jarang,” kata mantan juara MTQ tingkat Kabupaten Solok itu.

Geliat mengaji hanya tampak di MDA dan TPA masing-masing masjid. Itu pun kebanyakan hanya sampai sore atau hingga selesai Shalat Ashar. Namun, beberapa masjid dan surau masih terus mengaktifkan pendidikan Al Quran setiap selesai shalat Magrib hingga Isya. 

“Tapi, muridnya dipastikan anak-anak SD, paling tinggi sampai SMP,” terangnya.

Kendati demikian, sebagai orang yang tumbuh dan besar bersama Al Quran, Zetra mengaku tidak akan pernah meninggalkan surau dan masjid selagi masih sehat dan bisa berbagi ilmu dengan generasi Islam.

“Sampai kapan pun, saya akan jadi orang surau,” bebernya.

Setidaknya, lebih dari 29 Pondok Al Quran aktif di Kabupaten Solok. Semuanya lahir berkat semangat para Qori dan Qoriah senior Kabupaten Solok. Bahkan, tidak satu pun Pondok Al Quran itu yang dibina oleh Pemerintah Daerah.

“Mayoritas Pondok Al Quran didirikan guru irama,” terang Imam Masjid Agung Nurul Muchlisin Islamic Center Kotobaru itu.

Warga Jorong Panarian, Nagari Talang, Kecamatan Gunungtalang itu menceritakan, mayoritas guru irama di pondok Al Quran mengajar tanpa pamrih dengan niat Lillahita’ala. Seperti yang dilakukannya di Islamic Center Kabupaten Solok. 

“Sudah hampir satu tahun pondok Al Quran IC ini berjalan,” kata Zetra.

Awalnya lanjut ayah satu anak ini, tugasnya di masjid pemerintah itu hanya menjadi Imam shalat lima waktu. Namun, Zetra merasa rutinitas tersebut terlalu sepi tanpa diramaikan kegiatan mengaji. Lalu, sekitar 3 bulan setelah masjid yang berdiri bekas kantor Bupati Solok itu, dia berinisiatif mendirikan pondok Al Quran.

Qori terbaik Kabupaten Solok itu lantas mengumumkan pada seluruh jamaah untuk menyuruh anak ataupun cucunya yang ingin belajar seni Al Quran untuk datang ke masjid tanpa dipungut biaya apapun.

“Alhamdulillah, sudah hampir 20 orang murid saya yang aktif mengaji di Pondok Al-Quran IC ini,” terang Qori yang pernah mendapat hadiah umroh dari Kabupaten Solok itu.

Murid tilawah pondoknya beragam. Mulai dari murid SD, SMP, SMA hingga mahasiswa. Jadwal mengajinya pun tidak setiap hari, melainkan hanya 3 kali seminggu. “Kita ngaji hari Senin-Rabu setiap selesai shalat Magrib hingga Isya,” terangnya.

Menurut Zetra, minat generasi untuk belajar seni Al Quran di Kabupaten cukup tinggi. Hanya saja, rutinitas sehari-hari yang menyebabkannya lalai berlatih. “Kadang karena alasan banyak PR, belajar, mereka tidak jadi mengaji,” sebut juri MTQ tingkat Kabupeten Solok itu.

“Selesai mengaji, malamnya anak muda berlatih silat dan tidur di surau. Itu ciri khas generasi muda di kampung tempo dulu,” kata Irin Rajo Mudo, 83, salah seorang guru mengaji di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, kemarin, (17/3).

Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan mengaji dan aktif di surau semakin ditinggalkan. Tak jarang, hanya anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) yang masih rutin mengaji di surau dan masjid. Atau paling tidak, aktifitas mengaji hanya di TPA dan MDA.

“Kalau dulu, sampai SMA pun masih mengaji di masjid. Kini, entah karena malu karena sudah besar, tidak ada lagi yang aktif mengaji apalagi sampai tidur di masjid,” kata guru mengaji yang hampir setengah abad mengabdi di Masjid Alkautsar Munggutanah Salayo.

Wajib Pandai Baca Al Quran

Di sisi lain, sejalan dengan itu, Pemkab Solok tengah mengencarkan program Magrib Al Quran dan Subuh berjamaah yang telah diresmikan Bupati Solok pada 30 Desember 2016 lalu. Hal ini merupakan langkah awal untuk kembali membumikan fungsi masjid dan surau di Kabupaten Solok.

Gagasan ini muncul ketika nuansa kehidupan masyarakat kian hari dikikis kemajuan zaman. Paling tidak, dengan semangat seluruh kompenen Pemerintah Kabupaten hingga camat, nagari dan jorong, menjadi penyemangat generasi muda islam di masa mendatang.

Menurut Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo, geliat Magrib Al Quran dan Subuh Berjamaah ini memiliki peranan penting dalam membentuk karakter generasi muda. Sehingga, program tersebut menjadi penguat pilar pendidikan yang menjadi pilar pertama dalam Empat Pilar Pembangunan Kabupaten Solok.

“Pendidikan beragama mesti ditanamkan pada generasi sedini mungkin. Dalam hal ini, masjid dan surau tempat pertama dan terbaik bagi anak-anak, generasi muda memupuk kecintaan pada agama Islam,” sebut Gusmal.

Di samping itu, dalam Perda Kabupaten Solok No 10/2001 juga telah diatur tentang Wajib Baca Al Quran untuk siswa dan calon pengantin baru. “Bagaimana mungkin orangtua mendidik ilmu agama anak-anaknya kelak, jika orangtuanya tidak pandai baca Al Quran,” kata Gusmal. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co