Jumat, 20 October 2017, 06:47:48 WIB

Menyikapi Kecurangan di SPBU

09 April 2017 12:12 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 229 kali

Ajak Masyarakat untuk Cerdas

Memang menyebalkan bila hak konsumen disunat. Apalagi dilakukan secara curang, termasuk ketika membeli bahan bakar minyak di Stasiun Pengisian 
Bahan Bakar Umum (SPBU). Warga pun berharap perlindungan hak mereka sebagai konsumen dalam pengisian BBM.

Data Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Sumbar, tahun ini belum ada laporan keluhan pengguna BBM terhadap layanan SPBU. Panitera BPSK Sumbar, Mawardi, menuturkan saat ini belum ada laporan yang diterimanya dari masyarakat mengenai kecurangan yang dilakukan SPBU. 

“Biasanya konsumen langsung melaporkan ke pihak pengawas SPBU. Kami selalu melakukan pengawasan dan penyuluhan terhadap kasus tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan, perihal pengawasan untuk SPBU dilakukan langsung oleh Dinas Perdagangan Kota Padang. mulai dari penyuluhan kepada para petugas yang bekerja di SPBU tersebut sampai pengawasan program.

“Kondisi saat ini aman, namun kalau pun ada kendala langsung melaporkannya ke petugas meterologi SPBU,” katanya.

Terpisah, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumbar Dahnil Aswad mengungkapkan keluhan konsumen akan kecurangan dalam pengisian bahan bakar minyak dari SPBU tidak ada. Tapi banyak konsumen yang mengeluhkan kurangnya jumlah pelayan SPBU. ”Kami mengajak konsumen cerdas dalam menyikapi kecurangan di SPBU,” ucapnya.

Kepala Tata Usaha UPTD Metrologi Kota Padang Muhammad Faisal menjelaskan tera ulang biasanya dilakukan satu kali dalam setahun untuk mencegah adanya kecurangan dalam pengisian bahan bakar.

Peneraan juga bisa dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat. Lalu akan diproses terlebih dahulu oleh Dinas Perdagangan yang bertindak sebagai tim pengawas. Selanjutnya akan ditunjuk dari UPTD Metrologi Kota Padang sebagai tenaga ahli.

UPTD Metrologi Kota Padang sendiri dalam penetapan batas standar kesalahan yang diizinkan menggunakan plus-minus. Maksudnya BBM yang diuji dengan dimasukan ke dalam bejana tera, boleh melebihi atau kurang dari garis seratus meliliter. 

“Jika garis melampaui titik nol atau kurang dari titik nol dianggap sah. Asal tidak melewati garis seratus milliliter pada bejana tera,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar Herry Martinus mengakui di beberapa ruas jalan Kota Padang, juga terlihat banyaknya penjual BBM eceran. Padahal, sudah ada aturan larangan dari pemerintah terkait penjualan minyak eceran yang bersubsidi. 

“Bahan bakar bakar bersubdisi tidak diperuntukkan bagi penjual eceran. Namun, boleh dijual untuk kebutuhan industri dengan syarat memiliki surat keterangan dari dinas terkait. Misalnya untuk kebutuhan industri pertanian, harus menyertakan surat keterangan dari Dinas Pertanian,” katanya.

Ketika dihubungi Area Manager Communication & Relations Pertamina MOR I Sumbagut, Fitri Erika ketika dihubungi semalam meminta agar Padang Ekspres untuk menghubungi kembali hari ini. Namun sebelumnya dia pernah menyebutkan Pertamins tak akan menolerir kecurangan di SPBU.

Sementara, Staf Operasional SPBU Khatib Sulaiman, menjelaskan pengaturan mesin SPBU terhadap kekosongan selang akibat angin, dapat dicegah dengan pengecekan rutin setiap pagi. Dengan cara, sediakan bejana ukuran 20 liter, untuk masing-masing sampel BBM.

Tujuannya untuk mengetahui adanya kebocoran BBM sebelum beroperasi. Mesin SPBU yang sudah diatur takaran 20 liter, dimasukkan ke dalam bejana ukuran tersebut. Diperoleh batasan ketelitian 0,2- 0,4 liter. Jika lebih atau kurang dari takaran tersebut kemungkinan mesin tersebut mengalami kerusakan atau kebocoran.

“Biasanya pengecekan kami lakukan sesuai kondisi sebelum dioperasikan. Kami buka 24 jam, kalau malam satu mesin yang beroperasi,” jelasnya.

Dia menambahkan jika ada konsumen yang mengeluh perihal pelayanan terhadap pengisian BBM, maka pihak SPBU akan menjelaskan ketentuan dari kerja alat tersebut.

“Seperti konsumen yang mengeluh perihal keakuratan angka mesin. Mereka mengira kalau SPBU melakukan kecurangan, ditandai dengan masih adanya sisa minyak didalam slang,” katanya mencontohkan.

Dia menjelaskan sebenarnya bukan slang yang jadi tolok ukur, tapi alat nozzle. Alat ini memiliki tombol pengaturan keluarnya minyak. Jika ditekan maka, BBM keluar, jika dilepas maka BBM terhenti.

Apabila BBM yang keluar sudah sesuai takaran yang diminta, maka nozzle tidak berfungsi lagi. Dan tombol pun juga tidak berpengaruh dalam mengeluarkan BBM.

Untuk pengisiaan lewat jeriken, dia mengaku dilema. Ada yang terpaksa menjual kepada masyarakat yang menggunakan jeriken. “Solusinya dengan batasan tertentu,” jelasnya.

Dia menjelaskan pada mesin SPBU terdapat segel diberikan oleh Balai Metrologi. “Jika segel rusak, kemungkinan mesin sudah dibongkar oleh pihak lain, bisa saja ada kecurangan dalam pengoperasiannya,” ujarnya. 

Dalam keluhan konsumen, yang paling sering ditemukan adalah ketidaktahuaan cara kerja alat sehingga terjadi kesalahpahaman, “Sebaiknya ada penyuluhan kepada konsumen tentang kinerja mesin. Supaya tidak terjadi pengaduaan yang kurang mendasar,” ujarnya.

Dia mengimbau kepada konsumen agar saat melakukan pengisian BBM harus dipastikan dulu meteran mesin SPBU dimulai dari nol. Lalu memastikan kondisi kendaraan dan alat komunikasi seperti telepon genggam dalam keadaan mati.

Pengawasan mesin SPBU sebelum dioperasikan, harus dilakukan dua kali pengecekan setiap pagi. Pertama di cek kualitas minyak dan suhu, dengan cara ambil satu liter masing-masing produk, tentukan kualitas BBM dan suhunya, kedua mengetahui kondisi kebocoran mesin, menggunakan bejana 20 liter, dengan batas toleransi 30-50 mL untuk SPBU berlogo Pasti Pas, sedangkan yang tidak ada logo 100 mL paling besar. 

Kepala shift di SPBU Kelurahan Mataair, Wendi Marzaheru menuturkan ada dua faktor yang mempengaruhi terhadap kondisi BBM di dalam mesin. Pertama kerusakan mesin dan slang. Kedua karena suhu. 

“Suhu juga berpengaruh. Kalau suhu panas maka minyak akan memuai di dalam bejana. Menyebabkan bejana 20 Liter mengalami kenaikan sebanyak 10 meliliter. Begitu juga dengan kerusakan mesin dan slang, bisa jadi lebih atau kurang dari takaran bejana 20 liter,” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk kasus kerusakan mesin, nomor tera yang tidak jalan atau slang yang bocor, dapat diketahui saat pengecekan setiap pagi.

“Ada dua cara penggunaan mesin SPBU, dengan manual atau otomatis. Untuk manual biasanya angka tera di terka saja. Jadi bisa berlebih dari yang dibeli, bisa kurang. Kalau otomatis harus di set dulu angka teranya sesuai permintaan konsumen. Untuk SPBU kami menggunakan cara otomatis,” jelasnya.

Pria berkacamata itu mengungkapkan, faktor keluhan dari konsumen adalah cara penggunaaan nozzle. Kontrol dari nozzle jika ditekan minyak akan keluar, khusus kapasitas pengisian BBM kendaraan yang tidak muat, kontrol nozzle-nya ditekan dan lepas. Supaya minyak tidak tumpah.

Namun dia menyebutkan sering konsumen mengira itu kecurangan. Padahal tidak ada pengaruhnya. Malahan angka rupiah ditera mesin tidak begerak, jadi yang beruntung itu si konsumen.

Untuk pengisian menggunakan jeriken, diperuntukkan bagi BBM nelayan. “Bagi nelayan izinya harus menggunakan surat resmi. Waktu pengisian dibatasi yaitu pukul 10.00 sampai 16.00,” ucap Wendi Marzaheru. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co