Jumat, 20 October 2017, 06:51:36 WIB

Melihat Aktivitas Mahasiswa Beasiswa PMDSU Unand

07 May 2017 10:54:13 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 141 kali

Persaingan Ketat, Kuliah Padat

Kamis, (4/5) siang, gedung Pascasarjana lengang. Hanya beberapa ruangan saja yang dipakai untuk perkuliahan. Di dalam ruangan kuliah, salah seorang mahasiswa tampak serius mengerjakan tugasnya. Meski perkulihan belum dimulai, dia telah membahas sejumlah materi bahan kuliah. 

Namanya, Khoiriah. Mahasiswi Pascasarjana Unand ini mendapatkan beasiswa Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kemenristek Dikti. Usianya baru 25 tahun. Dia harus mengejar target.

Pasalnya dalam program ini, dia hanya diberi kesempatan empat tahun. Artinya, selama empat tahun dia harus menyelesaikan program magister (S-2) dan doktor (S-3). Saat ini, dua sudah menjalani lebih kurang dua tahun perkuliahan. 

Dia mengaku persaingan untuk mendapatkan beasiswa tersebut sangat sulit. Dia harus bersaing dengan peserta kurang lebih 20 orang. Sedangkan yang diwawancarai secara langsung hanya untuk tiga orang. Inilah kesulitan yang dia alami saat meraih beasiswa tersebut.

Dia pun harus bolak-balik Padang-Muarobungo, Jambi, karena dia berdomisili saat itu di Jambi. Hal ini disebabkan jadwal seleksi yang tidak pasti. Kondisi ini membuat dia harus mengeluarkan biaya yang besar.

“Saya tidak mau menyerah karena terhalang perjalanan dan jadwal. Bagi saya perjuangan ini masih belum seberapa,” ungkapnya pada Padang Ekspres, Kamis, (4/5). 

Awalnya, dia mendapatkan informasi tentang beasiswa tersebut, dari akun Facebook salah satu dosen Unand yang lolos menjadi salah satu promoter PMDSU Kimia.

“Susah mendapatkan info pasti, kemudian jadwal pendaftaran di website Dikti dan Unand pun kurang jelas, terkhusus Diktinya. Jadwal pendaftaran tidak sesuai dengan yang tertera dibuku pedoman PMDSU, dan begitupula dengan pihak Unand yang begitu minim informasi mengenai hal tersebut, karena program ini termasuk baru di Unand,” jelas mahasiswa Kimia Unand tersebut.

“Saya sudah mencari info dari tahun 2014, kemudiaan buka pendaftaran tahun 2015 dan pengumuman kelulusan September 2015,” ucapnya.

Diakuinya, kelebihannya ada pada nilai TOEFL, dan jurnal publikasinya yang sudah Internasional. “Skor TOEFL saya 510, sedangkan IPK 3,32. Saya unggul di bidang TOEFL dan publikasi jurnal penelitian tingkat internasional,” ucapnya.

Untuk pembelajaran beasiswa PMDSU tersebut, sistem belajar masih sama dengan mahasiswa Pascasarjana lainnya. “Sistemnya sama, cuma jadwal kuliahnya agak dipadatkan. Biasanya mahasiswa yang regular hanya dua kali seminggu, namun jadwal kami full dari Senin sampai Jumat, soalnya untuk S2 harus meyelesaikan empat semester. Karena kami punya kesempatan 4 tahun sampai meraih gelar S-3. Maka semester S-2 dijadikan dua semester,” jelasnya sambil tersenyum.

Lain halnya dengan sistem wisuda di program beasiswa ini, Khoiriah mengaku kalau wisuda tergantung kebijakan Universitas masing-masing.  Untuk Unand wisudanya hanya satu kali pas tamat S-3 saja.

Jadi setelah S-2 kita langsung kuliah untuk S-3. Sehingga saat tamat langsung mendapatkan gelar Doktor.Untuk lapangan kerja, dia juga pernah dengar akan ada kesempatan yang mendapatkan beasiswa PMDSU untuk jadi dosen di Unand.

Laih halnya, Tia Marita. Dia menjalankan studi S-2 di dua PTN yang ada di Kota Padang, yakni Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang (UNP). Tia yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumbar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2010. Awalnya ia tak memiliki keinginan untuk melanjutkan S2 di dua PTN sekaligus.

Namun, Tia yang bercita-cita menjadi dosen ini ingin lebih mendalami ilmu yang sudah dipelajari sejak duduk di tingkat S-1. Untuk S-2 di Universitas Andalas, Tia mengambil jurusan Linguistik, sedangkan S2 di UNP, Tia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

“Saya ingin mempunyai ilmu khusus di bahasa,” ucapnya saat di wawancarai Padang Ekspres via aplikasi Whatsapp. 

“Kalau saya ingin menjadi dosen bahasa, saya perlu pemahaman terhadap ilmu linguistik yang akan saya ajarkan nantinya. Karena saat S-1, ilmu tentang linguistik tidak banyak saya dapatkan,” tambah Tia.

Sebelum melanjutkan S-2, mahasiswi berjilbab ini pernah mengajar disalah satu pesantren di Padangpanjang. Kuliah di dua PTN sekaligus diakui Tia memiliki tantangan tersendiri.

Untuk pembagian jadwal kuliah, Tia sudah mengaturnya agar tak bentrok. Unand sendiri memiliki jadwal kuliah yang sudah dipaketkan langsung dari jurusan. Sedangkan di UNP, mahasiswa dapat memilih sendiri jadwal kuliah yang diinginkan. 

“Senin dan Selasa itu jadwal kuliah di Unand, selebihnya di UNP,” tutur wanita 24 tahun itu.

Namun, tak ayal Tia mengalami jam kuliah atau ujian yang bentrok membuatnya harus mengorbankan salah satu. Untuk masalah nilai, gadis asal Bangko, Jambi ini mengaku bisa mengkondisikan dan bersyukur. Hingga saat ini tak mengalami masalah yang serius terhadap nilai.

Kuliah di dua tempat juga dirasakan Alvindo Dermawan. Lelaki yang saat ini tengah menempuh S2 Pertanian di Universitas Andalas ini melanjutkan S-2 saat ia masih duduk di jenjang S-1. “Ada program fast track di fakultas saya,” ucapnya saat ditemui Padang Ekspres di Unand.

Fast track adalah program percepatan sarjana strata 1 (S-1)yang dilanjutkan dengan program Pascasarjana gelar magister (S-2) yang ditempuh dalam waktu 5 tahun.

Saat memulai pendidikan S-2, Vindo masih berada di semester tujuh di jenjang S-1. Saat ini, lelaki 22 tahun itu sudah berada di semester empat dan menargetkan wisuda pada bulan Agustus mendatang. Cita-cita untuk menjadi dosen yang membuat Vindo berkeinginan untuk segera lanjut S-2. 

Lelaki yang berjanggut ini mengaku, selain menyelesaikan studi S-2nya, ia juga menjadi asisten dosen untuk mengajar mahasiswa tingkat S-1. “Itu juga latihan dan pembelajaran untuk mewujudkan cita-cita saya,” tambahnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co