Selasa, 12 December 2017, 09:48:34 WIB

Melihat Prestasi Mubalig Muda Kota Padang

21 May 2017 12:07:41 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 217 kali

Angkat Materi Dakwah sesuai Kondisi

Ihsan Bachda tercatat sebagai terbaik satu putra pidato bahasa Arab, pada Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) Kota Padang tahun 2015. Namun, siapa sanggka remaja 13 tahun ini sebelumnya termasuk anak yang nakal. Bagaimana perubahan hidup remaja ini?

Ihsan, tak menyangka hidupnya berubah drastis. Dulunya, dia termasuk anak nakal dan urak-urakan. Namun sekarang semuanya berubah saat dia belajar di sebuah Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), Mushalla Jamiatul Khairat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

Berawal dari santri biasa, tidak punya kemampuan apapun, saat ini dia menjadi panutan. Memulai dari tingkat pendidikan terbawah, dan dilatih oleh guru yang berpengalaman, membuat remaja 13 tahun tersebut, mulai memperlihatkan bakat yang dia punya. Yaitu pidato dalam bahasa Arab. 

Dia sudah menjuarai terbaik satu putra pidato bahasa Arab, Porsadin Kota Padang tahun 2015. “Awalnya saya tidak menyangka bisa juara, padahal itu pertama kalinya saya lomba pidato bahasa Arab. Apalagi saat tampil gugup sekali, penampilan saya rasanya tidak sempurna, tapi ternyata saya juara, Alhamdulillah,” ucapnya.

Selain antar-Kota Padang, dia pun juga menjuarai Cabang Khutbah Jumat tingkat nasional, MTQ ke-37 tahun 2016. “Saat itu lawan saya adalah anak pesantren yang usianya sebaya dengan saya. Tapi dia lebih senior dari saya. Mereka sudah pernah mengikuti perlombaan dimana-mana, sedangkan saya baru beberapa Kali, tapi tidak menyangka juga bisa juara tiga,” katanya.

Dia menceritakan, dulu dia anak nakal, tapi setelah mendapatkan juara di beberapa perlombaan, dia jadi berfikir untuk harus berubah menjadi lebih baik. Kali ini saya sudah punya tujuan, yaitu menyebarkan dakwah karena Allah.

Dia juga meraih juara tiga tingkat Provinsi Sumbar, Porsadin yang diselenggarakan oleh kantor wilayah Kementrian Agama Provinsi Sumbar. “Pesertanya banyak sekali, saya sudah pesimis tidak akan juara, tapi saya ingat pesan guru, yaitu kalau sebagai orang berilmu jangan pernah sombong, coba lihat padi, semakin diisi semakin merunduk,” katanya.

Prestasi lain Ihsan Bachda di bidang dakwah adalah, juara dua lomba pidato tingkat MDTA di acara Porsadin III tingkat Kota Padang, dalam rangka tahun baru Islam 1 Muharram 1438 H.

Gurunya pun juga ikut mengapresiasikan salah satu murid kebanggaannya ini. “Ihsan terkenal  jahil dan suka melawan. Kami sebagai guru berusaha mendidik dan menggali terus potensi Ihsan sampai saat ini,” kata Yassir Rizki guru MDA Mushalla Jamiatul Khairat.

Ihsan Bachda, terus belajar agama di sebuah pesantren Iqra, Kecamatan Koto II Tarusan. Tujuannya memantapkan ilmu dakwah yang sudah dia punya, sampai dia mampu menjadi pendakwah yang di percaya oleh umat muslim untuk memberikan pencerahan tentang ajaran Islam.

Mubalig muda lainnya, Farid Anshar Alghifari, mengikuti jejak almarhum sang ayah. Farid mulai belajar berceramah sejak duduk di bangku kelas 1 Tsanawiyyah. Lelaki 18 tahun ini pun sudah banyak meraih prestasi di bidang dakwah.

Seperti juara satu lomba dakwah tingkat SLTA se-Kota Padang pada tahun 2016 dan juara satu khutbah Jumat se-Kota Padang pada tahun 2016. Kegiatan berdakwah diakui Farid memiliki kesenangan tersendiri. 

“Kita dapat menyatukan semua orang dari bermacam-macam golongan,” ucapnya kepada Padang Ekspres, Jumat (19/5). 

Selain itu, lelaki yang baru saja menamatkan pendidikan di MAN 2 Padang ini mengatakan bahwa berdakwah juga menjadi ajang bersilaturahmi kepada sesama umat muslim. Dibimbing langsung oleh sang ayah, Farid mantap terus belajar berdakwah. 

Untuk urusan pendidikan, Farid lolos menjadi mahasiswa undangan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Sastra Arab. “Tapi kemarin masih ikut juga SBMPTN. Ambil Unand Jurusan Hukum dan UIN Jurusan Hukum Islam. lihat hasil terbaik saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Farid bersyukur dianugerahkan potensi dalam berdakwah dan ingin mengembangkannya. “Namun apapun background seseorang itu, selagi dia mampu berdakwah itu sudah menjadi keharusan bagi dia,” kata bungsu tiga bersaudara itu.

Saat bulan Ramadhan, Farid selalu diberi kesepatan untuk berceramah. Dalam sebulan, paling sedikitnya selama satu minggu ia berceramah. Materi yang diangkat pun tentang isu-isu dan perkembangan remaja dan pemuda dari segi keislaman. Selain memberikan ceramah pada bulan ramadhan, Farid rajin ditunjuk sebagai khatib jumat.

Dibalik itu, Farid mengaku memiliki kesulitan tersendiri saat berceramah di depan jemaah yang berumur jauh lebih tua darinya. “Ada rasa segan, namun alhamdulillah bisa saya atasi,” katanya.

Menjalankan kewajiban dengan baik agar generasi muda lebih memperhatikan permasalahahan-permasalahan agama yang menjadi motivasi Farid untuk terus berdakwah. Selain itu, ia juga berharap agar anak muda lebih cinta dengan agama Islam yang diyakini. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co