Jumat, 20 October 2017, 06:48:40 WIB

Luruskan Niat Siarkan Ajaran Agama

21 May 2017 12:07:44 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 171 kali

Mubalig jangan Harapkan Imbalan

Tugas seorang mubalig (penceramah) menyampaikan ilmu sebagai bentuk suatu pengabdian kepada masyarakat tanpa mengharapkan imbalan. Namun demikian, mubalig juga seorang manusia yang juga membutuhkan materi untuk menyambung hidupnya. Tentunya tidak menentukan nominalnya.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Shofwan Karim Elha menegaskan selama ini Muhammadiyah tidak mengenal adanya jasa penyedia penceramah. Yang ada hanya istilah majelis tablig dan lembaga dakwah khusus yang bertugas mengisi ceramah. 

“Selama ini belum ada mubalig yang ditunjuk oleh Muhammadiyah menetapkan suatu tarif sebagai imbalan atas ceramah yang disampaikan. Ini sebagai bentuk menghindari komersialisasi bagi penceramah yang dapat merusak tujuan dakwah itu sendiri,” katanya, Jumat (19/5). 

Katanya, pengelolaan atau manajemen Korp Mubaligh di Sumbar saat ini belum mengarah kepada komersialisasi, bahkan menghindari hal tersebut. Ia berharap mubalig tetap pada prinsipnya yang tidak terpengaruh dengan komersialisasi yang dapat merusak tujuan dakwah. 

Yakni memberikan ilmu dan menyebarkan ajaran Islam, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Serta dapat meningkatkan kualitas ceramah dengan memperdalam ilmu agama dan menjadi contoh yang dapat di panut oleh masyarakat dalam berdakwah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad menjelaskan ceramah merupakan misi agama yang dilakukan dengan ketulusan sebagai bentuk penerapan ilmu langsung kepada masyarakat. Jika seorang penceramah sudah menerapkan tarif dalam penyampaian ceramah hal tersebut dapat dikategorikan sebagai komersialisasi dalam dakwah.

Berbeda jika seorang memberikan suatu apresiasi sebagai bentuk ucapan terima kasih dan hal tersebut dianggap tidak salah. Mubalig boleh saja menolak atau menerima hal tersebut.

Mubalig ditingkat nasional biasanya memiliki pengelolaan manajemen sendiri. Biasanya dalam tingkat ini mubalig memiliki tarif yang telah disepakati. Mubalig dalam kalangan ini disebut mubalig entertaint atau mubalig komersialisasi yang telah memiliki tarif dalam setiap ceramahnya. 

“Hal ini perlu diluruskan, mengembalikan peran dan tujuan awal dari ceramah itu sendri. Apakah untuk keperluan umat atau untuk pribadi semata yang nantinya dapat merusak nilai akidah Islam,” ucapnya.

MUI juga mengimbau kepada masyarakat untuk cerdas dalam memilih mubalig yang akan memberi ceramah. Tidak sekadar ceramah yang menghibur namun juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebanyakan saat ini ceramah yang dipilih lebih kepada menghibur namun kurang berisi ilmu.

Sebagai salah satu langkah memperbaiki dan menghindari adanya komersialisasi terhadap pencemah, pada 25 Mei mendatang MUI Kota Padang akan mengadakan muzakarah.

Kegiatan ini akan membahas penataan mubalig yang memiliki kompetensi, dan penyampaian ceramah yang bermutu dan sesuai kebutuhan masyarakat Kota Padang.

Kabid Penaiszawa Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar Maswar mengatakan saat ini belum ada pengawasan khusus dari Kemenag terkait komersialisasi terhadap mubalig menjelang Ramadhan. Ia menyayangkan jika hal tersebut terjadi di Kota Padang. 

Kemenag beserta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerja sama dalam penataan dan pelatihan terhadap mubalig sebagai upaya mengoptimalkan kualitas pencerah selama bulan puasa nanti.

Hal ini merupakan program rutin yang dilaksanakan dari Pemko Padang dalam pemenuhan 9 maklumat Menteri Agama. Yang memfokuskan kepada penceramah dan isi ceramah yang akan disampaikan.

“Biasanya pelatihan ini diadakan tiap tahun menjelang bulan Ramadhan, tujuannya adalah untuk melatih dan penataan terhadap mutu ceramah yang akan disampaikan oleh penceramah,” terangnya.

Diharapkan dengan adanya program tersebut penceramah lebih baik lagi dalam pencapaian isi ceramah dan dapat menempatkan diri sesuai dengan adat dan situasi suatu tempat.

Juga adanya saling memahami antara penceramah dengan panitia yang meminta jasa penyedia ceramah agar tidak terjadi komersialisasi dan mengembalikan tujuan awal ceramah. Yakni sebagai dakwah penyampaian ilmu agama bukan ajang mencari keuntungan.

Sekretaris Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sumbar, Ari Sultoni menerangkan tujuan dakwah merupakan mencari kebaikan dan mengajak kepada prinsip kebaikan. Dan ikhlas terhadap ilmu yang disampaikan bukan mengharapkan imbalan. 

Antisipasi pencegahan adanya unsur komersialisai bagi penceramah, mengadakan pelatihan-pelatihan bagi dai serta penataran sebagai pendalaman ilmu agama yang dimiliki para dai sebagai bekal yang akan disampaikan dalam dakwah. Kemudian memotivasi para dai untuk menanamkan nilai ikhlas lillahi taala dalam diri dan tidak mengharapkan imbalan dalam berdakwah.

Ia berharap para dai mampu meningkatkan kapasitas ilmu agama sebelum menyampaikan ceramah. Menjaga niat dalam berdakwah yakni lillahi taala, semua yang diniatkan karena Allah maka hasilnya pun akan baik. 

“Mungkin ada sebagian dai yang menggantungkan hidupnya berdakwah. Jika nantinya ada yang memberi sebentuk imbalan sebagai ucapan terima kasih itu boleh saja karena mungkin itu rezeki yang ia dapat dari Allah atas kebaikan yang ia tebar. Namun kami tidak mengharapkan imbalan apalagi sampai menerapkan tarif bagi para dai karena hal tersebut sama saja menjual ayat-ayat Allah untukkepentingan pribadi,” jelasnya.

Salah seorang pengurus Mushalla Jamiatul Khairat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Yassir Rizki menuturkan untuk lembaga yang memfasilitasi penceramah yang ada sangat diberikan apresiasi. Baginya ini merupakan kemudahan yang mampu menjadi solusi bagi masjid yang kekurangan penceramah. 

“Untuk mencari penceramah, biasanya mengambil ustad yang ada di sekitar wilayah dan memberi peluang juga bagi anak remaja yang punya keinginan menjadi seorang pendakwah. Di sekitar lingkungan tempat tinggal saya banyak yang mampu menjadi pendakwah. Sehingga kami tidak pernah kekurangan pendakwah. Selain itu kami juga selalu memprioritaskan anak nagari, supaya mereka terlatih menjadi pengganti penceramah yang sudah tidak aktif lagi,” katanya.

Pengurus Masjid Al Qadar, Siteba, Teguh Maulana Efendi menuturkan lembaga yang memfasilitasi ceramah mempermudahnya untuk mencari penceramah. Lelaki 18 tahun ini mengaku belum pernah menggunakan jasa ini.

“Biasanya saya langsung telepon ustad yang mengisi ceramah,” ucapnya, Jumat (19/5).

Lelaki yang sudah menjadi pengurus masjid sejak Agustus tahun lalu ini bercerita, terkadang ia kesulitan mencari ustad yang mengisi ceramah karena beberapa ustad ada yang tak bisa hadir.  

Untuk honor penceramah, pengurus masjid sudah menyepakati memberikan Rp 200 ribu untuk sekali ceramah, dan itu bersifat sama rata. Honor penceramah sendiri didapat dari uang yang dikumpulkan jamaah. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co