Rabu, 13 December 2017, 08:23:06 WIB

Darmis, Pengelola Warung Nasi Putri Sunyi di Kota Padang

13 October 2017 10:34:26 WIB - Sumber : Novitri Silvia - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 22 kali

Gratiskan Makanan untuk Jamaah Shalat Jumat

Darmis bukan berasal dari keluarga kaya raya. Ia hanya memiliki warung nasi seadanya dan jauh dari kesan mewah. Namun, pria ini mampu berbagi makanan dan mengratiskan makanan kepada jamaah Masjid Jihad yang melaksanakan shalat Jumat. Dia yakin, rezeki tak pernah habis jika berbagi di jalan Allah.

Di Jalan Perak 2, Kelurahan Kampuangjao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang tampak sebuah rumah kayu yang bagian belakangnya disulap menjadi warung nasi seadanya. Hanya dibatasi dengan pagar dan ditutup spanduk sepanjang  5 meter persegi yang membatasi warung nasi Putri Sunyi dengan jalan lalu lalang warga sekitar. Sebuah meja kayu memanjang digunakan sebagai tempat duduk pengunjung. Dan sebuah payung lengkap dengan kursi serta meja plastiknya diletakkan pada bagian belakang. 

Sekilas, tak ada yang istimewa di tempat ini. Hanya sebuah keramahan penuh senyum akan menyambut siapa saja yang datang. Salah satu pengunjung yang pernah menjadi donatur di warung tersebut, sebut saja namanya Hamba Allah (HA), sebelumnya tidak mengetahui adanya penggratisan makanan bagi jamaah yang datang usai shalat Jumat. Awalnya, ia kebetulan lewat di tempat itu dan singgah di Masjid Jihad yang berdekatan dengan lokasi yang menjadi tujuannya. Selesai shalat Jumat, ia berniat membeli nasi di warung kecil milik Darwis itu.

Namun, ia mengurungkan niatnya, karena lupa membawa dompet. Salah seorang jamaah masjid ternyata memperhatikan raut wajah HA dan memberi tahu bahwa ia bisa makan di warung nasi Putri Sunyi, persis di depan masjid, walau tak punya uang. Benar saja, ketika melangkah keluar area masjid, matanya langsung tertumbuk pada sebuah bangunan kecil yang ramai diserbu jamaah usai shalat Jumat.

AH sedikit ragu untuk mengambil bungkusan nasi yang telah di susun di atas meja. Tetapi rasa lapar mengalahkan gengsinya. Segera, ia mengambil sebungkus nasi dan sepiring lauk yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pemilik warung di dalam etalase yang ditutup tirai berwarna putih. Ia pun berbaur dengan jamaah lain yang tampak lahap memakan masakan  rumahan itu.

“Ada rasa terharu saat itu, ketika melihat semua berbaur makan dengan lahap tanpa melihat status maupun pakaian. Juga ada rasa malu melihat warung kecil itu mampu memberi makan kepada orang-orang, sedangkan saya tidak pernah mampu melakukannya,” ujarnya dengan suara sedikit bergetar menahan haru.

Makanan gratis bagi jamaah masjid atau siapapun yang datang usai shalat Jumat sudah dilakukan Darmis  sejak setahun lalu. Pria yang akrab dipanggil Uncu ini mengaku, ide itu muncul ketika melihat banyaknya mahasiswa dan pelajar yang datang dan lalu lalang di depan masjid. Mereka sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu. Berbekal kegigihan dalam menuntut ilmu agama Islam, para pelajar dan mahasiswa itu banyak yang menggantungkan hidup dengan biaya terbatas dari orang tua, beasiswa kampus atau menjadi garin di masjid.

Hati Uncu terpanggil untuk sedikit membantu mereka dengan berbagi makanan secara gratis. Uncu tidak pernah menggariskan siapa saja yang boleh mendapat makanan secara percuma dikedainya. Jika ada musafir yang lewat atau buruh pekerja di pasar yang sengaja mampir ingin makan, dipersilakan. 

Ide Uncu itu didukung oleh pengurus masjid, lalu membantu mencarikan donatur untuknya dalam menyiapkan makanan di hari istimewa bagi muslim itu. Biasanya, Uncu hanya menanak nasi sekitar dua gantang saja untuk dijual. Berbeda jika hari Jumat, ia melebihkannya menjadi  5 gantang. Karena ia harus menyiapkan 40 bungkus makanan yang digratiskan kepada pengunjung yang akan datang. Ia mulai membungkus pukul 11.00 hingga masuknya waktu shalat Jumat. 

“Kalau sedang ramai, saya sering kewalahan. Untung, ada isteri yang bantu. Konsekwensinya, saya harus rela ke masjid saat khatib sudah naik mimbar, dan kebagian shaf belakang. Yang penting ikhlas dan niat karena Allah. Insya Allah berkah,” ucapnya ketika ditemui Padang Ekspres di warungya, Rabu (22/10).

Jika pengunjung melebihi target 40 bungkus makanan (dari target donatur, red), ia sering melebihkannya menjadi 50 bungkus. Tak ada rasa khawatir akan kerugian yang diperolehnya jika ikut menambah menjadi pendonor makanan. Ia percaya dengan berbagi, rezeki tak akan berkurang. Dengan berbagi, ada rasa puas dan bahagia di batinnya.

Namun akhir-akhir ini, Uncu mengaku sering terkendala karena ada beberapa oknum yang memanfaatkan kebaikannya dengan melakukan kecurangan. Mereka mengambil makanan lebih dari yang disediakan. Misalkan satu bungkus makanan disediakan sepotong lauk pauk, mereka mengambilnya lebih. Ini membuat yang lain tidak mendapat bagian. Dan bungkusan nasi sering berlebih akibat kekurangan lauk.

“Rencananya saya akan mengubah caranya dengan membungkus lauknya bersamaan dengan nasi agar adil dan tidak ada kecurangan lagi. Semoga saja, ini bisa menjadi cermin dan menginsiprasi orang-orang agar mau berbagi dengan sesama,”  katanya sambil bergegas ke masjid karena adzan Zhuhur telah berkumandang.

Ketua Masjid Jihad, Miko Kamal menyebutkan, ia telah berkoordinasi dengan Darmis untuk menjalankan program tersebut. Selain itu, merekrut donatur dari kenalannya hingga membuat spanduk demi suksesnya program tersebut. 

Awalnya, ia mengumumkan adanya makan gratis bagi jamaah di masjid usai Jumat. Jamaah pun berbondong ingin mencoba racikan dari tangan Darmis dan isterinya. Sejak  itu, para jamaah dan warga sekitar sudah hafal dan paham tujuan dari adanya kegiatan tersebut. Ia juga mengajak rekannya berdonasi melalui pesan dan info dari sosial media seperti whatsapp. 

“Tujuannya hanya ingin membatu orang-orang yang membutuhkan, sekaligus membantu perekonomian keluarga Uncu. Kalaupun ada yang mencemoohkan, tidak perlu ditanggapi, biar Allah yang menilai. Yang penting niatnya ibadah,” jelasnya. ketika dihubungi via telepon. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co