Rabu, 13 December 2017, 08:28:52 WIB

10 Penderita Gangguan Jiwa Dirantai

13 October 2017 10:36:12 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 23 kali

Tanahdatar Dekati Keluarga, Solsel Lakukan Fasilitasi

Sebanyak  10 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih dikurung dan dirantai di Kabupaten Tanahdatar. Perlakuan tersebut diambil pihak keluarga karena dianggap menganggu manusia lain di lingkungannya. 

Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tanahdatar terus berupaya melakukan pendekatan ke keluarga penderita gangguan jiwa agar mereka mendapatkan penanganan yang tepat.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tanahdatar, Yuhardi  menyebutkan, masih ditemui  masyarakat  yang mengalami gangguan jiwa yang butuh penangganan bersama. Ada warga yang masih mengurung  dan merantai penderita gangguan jiwa. Dari data Dinas Sosial ada 10 orang penderita gangguan jiwa yang dirantai dan dikurung. 

Mereka tersebar dari berbebagai daerah di Tanahdatar, seperti Tanjungjua, Jorong Baiang, Nagari Guguakmalalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Muaro Basa Duo Koto, Nagari Guguakmalalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Bayur, Nagari Tanjungalam, Kecamatan Tanjungbaru, Jorong Dalam, Nagari Barulak, Kecamatan Tanjungbaru, Kapuah, Nagari Barulak, Kecamatan Tanjungbaru, Jorong Dalam, Nagari Barulak, Kecamatan Tanjungbaru, Dusuntuo, Nagari Limakaum Ampaleh, Nagari Tanjungalam, Kecamatan Tanjungbaru, dan warga Sawahkareh, Nagari Balimbiang, Kecamatan Rambatan.

“Berbagai upaya juga kami lakukan untuk membantu penderita gangguan jiwa untuk mendapatkan pengobatan. Bagi mereka yang tergolong warga tidak mampu, kami berikan kartu BPJS dan diobati. Kami bersinergi dengan Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Bagi pasien yang telah dinyatakan sehat, setelah dilakukan perawatan di RSJ HB Saanin Padang, akan dilakukan rehabilitasi selama satu tahun di Bengkulu. Ini untuk memulihkan kondisinya. Di sana, penderita gangguan jiwa diberikan pelatihan kerja selama setahun. Kemudian, baru dikembalikan kepada keluarga. Pengiriman dan pemulangannya dilakukan oleh Dinas Sosial.

“Bagi penderita gangguan jiwa berat, kami melakukan pendekatan kepada keluarga mereka. Dengan harapan, agar keluarga maksimal merawat anggota keluarganya yang sakit tersebut. Kami berharap orang-orang penderita gangguan jiwa itu bisa tertangani secara profesional,” ucapnya.

Dia juga mengimbau masyarakat  tak mengucilkan penderita gangguan jiwa. Warga mesti ikut berperan aktif, menerima dan mendorong kesembuhan penderita gangguan jiwa. Karena masyarakat di lingkungannya menjadi penentu untuk kesembuhan mereka di samping obat rumah sakit. “Bagaimana pun mereka adalah saudara dan tetangga kita, yang menjadi bagian dari kehidupan sosial kemasyarakatan,” tukasnya.

247 ODGJ di Solsel Difasilitasi

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Solsesl Novirman mengklaim tidak ada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terlantar di daerahnya. Sebanyak 247 ODGJ telah mendapatkan pengobatan. 

“Pengurungan ataupun pemasungan terhadap seseorang yang mengalami gangguan jiwa, bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa. Oleh karena itu, dalam mendukung program pemerintah bebas pasung, kami telah memberikan fasilitas kesehatan terhadap ODGJ di Solsel,” ucapnya.

Ia menyebutkan setiap penderita gangguan jiwa di Solsel dipastikan mendapatkan fasilitas kesehatan. Apabila penderita tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan akan diberikan. Dan apabila tidak ada biaya untuk pergi berobat akan difasilitasi, termasuk kendaraan ambulans.

Sementara untuk biaya transportasi ambulans sendiri, mendapat bantuan dari Baznas. Kemudian dari data program kesehatan jiwa, Dinkes Solsel mencatat sebanyak 247 orang didiagnosa penderita gangguan jiwa hingga periode Agustus 2017.

Kesuluruhannya tersebar di delapan puskesmas dari sembilan puskesmas yang ada di Solsel. Rinciannya, di Puskesmas Pakan Rabaa terdapat 10 orang, Puskesmas Muarolabuh, 53 orang. Puskesmas Pakan Salasa, 37 orang, Puskesmas Lubuk Gadang, 71 orang, Puskesmas Bidar Alam 33 orang.

Selanjutnya di Puskesmas Talunan ada 19 orang penderita gangguan jiwa, Puskesmas Mercu 5 orang, dan Puskesmas Abai, ada 19 orang.

“Semua penderita ini, tidak ada yang terlantar. Pada tahun ini, melalui APBD Solsel Pemda telah menganggarkan Rp 22 juta untuk memfasilitasi penderita gangguan jiwa. Selain mendapat penanganan di puskesmas mereka juga akan dirujuk ke rumah sakit jiwa,” tandasnya.

Novirman menjelaskan, pihaknya sudah melakukan upaya maksimal dalam menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan pemasungan terhadap anggota keluarga ataupun warga yang dianggap menderita gangguan jiwa, baik gangguan berat ataupun sedang.

Hal itu terlepas dari temuan pada tahun 2016 lalu, bahwa ada satu kasus penderita yang telah diobati tapi dikarenakan keterlambatan pemberian obat sehingga mengamuk. Yang bersangkutan dipasung pihak keluarga karena dianggap membahayakan orang lain.

“Sejauh ini, memang belum ada lagi kami temui kasus pembatas ruang gerak penderita dengan dipasung ataupun diikat. Kami menyarankan kepada warga, apabila memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa jangan sampai dilakukan pemasungan atau pengurungan, karena semakin menyiksanya,” katanya.

Sementara, Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Solsel, Karnova menyebutkan jenis penyakit gangguan jiwa terbagi atas sembilan kasus. Di antaranya, psikotik akut, neurotik, epilepsi, retardasi mental, nafza, gangguan kesehatan jiwa anak dan remaja, gangguan depresif, psikotik kronik dan gangguan mental organik.

“Dari sembilan kasus itu terbanyak jumlah penderita gangguan jiwa jenis psikotik kronik sebanyak 138 kasus dan gangguan mental organik nihil,” katanya.

Kepala Bidang Sosial, Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa, Diki Ananda menyebutkan, pihaknya ikut memberikan dukungan program pemerintah bebas pasung dan gangguan jiwa.

“Kami akan mendata masyarakat yang tidak mampu dan menderita gangguan jiwa. Seandainya, ada penderita gangguan jiwa dan telah dirujuk ke rumah sakit jiwa dan dinyatakan pulang dan sembuh, tapi tidak diterima di lingkungan tempat tinggalnya. Barulah kami fasilitasi untuk diantar ke Panti khusus di provinsi Bengkulu dan Lampung,”  tukasnya. (*) 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co