Rabu, 22 November 2017, 08:40:03 WIB

Miliki Market Sendiri, Atasi Pengangguran

22 October 2017 13:03:54 WIB - Sumber : Tim Redaksi Padang Ekspres - Editor : Yogi Fernando    Dibaca : 44 kali

Dewasa ini masyarakat semakin dimanjakan. Seperti dalam membeli kebutuhan dapur, tak perlu lagi ke pasar tapi pedagang itu yang datang ke rumah. Pola seperti ini mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat.

Seperti diungkapkan pengamat sosial ekonomi dan pasar di Universitas Andalas, Rinaldi Ekaptra menuturkan pada dasarnya setiap orang berhak mendapatkan pekerjaan termasuk berdagang. Sayangnya, kecenderungan masyarakat yang sering kali menganggap adanya kompetitor atau saingan sering dianggap musuh.

Dalam hal ini butuh introspeksi diri jika ingin maju dalam suatu usaha. Dalam sistem saat ini, masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) adanya pesaing dalam ekonomi dianggap sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan. Keberadaan garendong juga tidak mematikan pasar tradiaional. Karena penentuannya bergantung pada kualitas barang ditawarkan serta pelayanan diberikan kepada pembeli.

Menurutnya, adanya indikasi orang malas ke pasar karena peran pasar sudah tergantikan gerendong justru tidak memberi pengaruhi terhadap pasar. Sebagian mereka memahami efesiensi waktu dan memilih berbelanja di garendong. Bagi masyarakat yang suka berbelanja konvensional di pasar kemungkinan mereka memiliki berbelanja dengan jumlah besar sedangkan garendong terbatas.

Disatu sisi keberadaan pedagang garendong memberi solusi bagi masyarakat di pelosok karena membantu mengurangi biaya cost atau biaya transportasi dan efesiensi waktu serta menciptakan lapangan pekerja baru dengan menjadi pedagang keliling. Garendong merupakan sektor ekonomi informal yang perlu digalakkan. Regulasi garendong tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan tidak perlu peraturan tertentu dalam mengaturnya.

Harusnya pemerintah menyokong keberadaan garendong tersebut. Misalkan memberi suntikan dana UKM dalam pengembangannya. Karena mereka membantu mengembangkan perekonomian dalam sektor informal. Pedagang pasar tidak harus khawatir dengan keberadaan mereka, karena tidak akan mematikan pasar. Setiap pasar memiliki market masing-masing termasuk garendong.

Hal senada juga disampaikan pengamat antropologi ekonomi Unand lainnya, Nursyirwan Effendi. Garendong adalah bagian dari solusi pengangguran. Adanya garendong memberikan mata pencarian baru bagi masyarakat. Indikasi tingkat pengangguran yang tinggi bisa dihadapi dengan cara ikut terlibat dalam sektor ekonomi informal.

Keberadaan garendong dapat melayani hingga ke pelosok atau masuk gang. Pedagang garendong berinovasi menawarkan barang dan jasa. Dapat dikatakan menjadi kerja kreatif yang menawarkan jasa dan menjemput pembeli.

Selain itu, timbul gejala baru dengan memanfaatkan transportasi untuk berdagang. Seperti seorang yang memiliki cicilan mobil dan memanfaatkannya untuk kegiatan yang dapat menghasilkan uang. Meskipun keuntungan yang diperoleh berkisar 5-10 persen per item. Tetapi putaran uang yang cepat memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan.

“Kondisi ini tidak mematikan pasar tradisional. Hanya bergeser dari modus jual beli di pasar tradisional. Justru ini memberikan keuntungan bagi pedagang. Karena pedagang gerandong biasanya membeli dalam jumlah banyak untuk kembali dijual. Kemungkinan berdagang dengan sistem gerandong ini adalah redistribusi penawaran jasa dan penjualan barang yang dipicu akibat gempa 2009 di Pasar Raya. Membuat cara berdagang lebih bervarian. Diduga dari pengalaman tersebut orang berpikir dan lebih kreatif dalam berdagang,” ucapnya.

Rahmi Fahmy, dosen ekonomi sekaligus Rektor Universitas Dharma Andalas menyebutkan garendong tidak memberi pengaruh terhadap pasar tradisional. Garendong menggunakan konsep pengantar sama seperti sistem berbelanja online.

Kelebihannya garendong bisa dipilih di rumah sedangkan sistem online tidak (barang dipesan dan dipilh langsung dilayar HP atau komputer, red). Perkembangan zaman menggunakan konsep melayani  lebih kreatif menjadikan garendong lebih diminati dalam perkembangannya.

Garendong tidak perlu dikembangkan pemrintah karena secara nature-nya akan berkembang mengikuti perkembangannya sendiri. Berdasar perubahan zaman dan teknologi. Garendong memberi dampak positif dengan membantu warga dalam berbelanja. Dampak negatifnya akan timbul jika ada garendong ngetem atau berhenti di sembarang tempat, menimbulkan kemacetan sehingga butuh penegakan aturan.

Dari segi sosial, Sosiolog Unand,  Afrizal menjelaskan garendong menjadi jalan keluar dari kompetisi perdagangan yang dipilih. Melihat peluang maupun kesempatan dalam pemasaran produk. Hal ini bukan disebabkan adanya kecenderunagn masyarakat yang malas ke pasar.

“Pada lingkungan sosial dampaknya akan tercipta kemudahan untuk berbelanja, sama dengan e-shop atau online shop. Mereka yang tidak memiki waktu berbelanja dapat terbantu dengan adanya garendong tersebut,” katanya.

Lain lagi sosiolog Dwiyanti Hanandini yang juga dosen Sektor Informal Unand. Dia berpendapat garendong hadir di tengah masyarakat akibat kondisi pasar tidak menunjang untuk berbelanja. Kebanyakan pasar masih belum dikatakan layak membuat orang enggan.

Meskipun begitu sesekali para pelanggan yang berbelanja di garendong tetap kembali ke pasar untuk berbelanja. Pasar di kawasan Pondok, Padang menjadi contoh pasar tradisional yang menawarkan kebersihan dan kenyamanan bagi pengunjungnya.

Hal ini juga mulai tampak pada pasar Bandarbuat usai revitalisasi beberapa waktu lalu. Mesti ada pembenahan pasar yang lebih serius, berkelanjutan, dan tegas terhadap peraturan dan pembenahan pasar. Agar orang betah berbelanja di pasar. Serta fungsi pasar tidak tergantikan oleh keberadaan pedagang garendong.

Ia menilai pedagang garendong yang masuk kompleks perumahan turut membantu interaksi lingkungan terdekat  atau tetengga. Ketika berbelanja di garendong orang akan cenderung berkumpul dan menimbulkan sosialisasi. Menciptakan komunikasi dengan warga setempat yang tidak punya waktu untuk bergaul.

Hal serupa juga diungkapkan sosiolog Indraddin, yang juga ahli pemberdayaan masyarakat FISIP Unand. Garendong memnfaatkan perubahan sosial tersebut  dan memperlajari selera  selera konsumen. Membuat keberadaannya lebih dipilih saat ini. Selain itu tuntuan teknologi seperti kecanggihan alat transportasi membuat orang lebih memilih hal lebih mudah dan cepat.

Tentunya ini menimbulkan dampak dan berimbas kepada pemanfaatan lingkungan. “Jika tidak bisa dicegah maka perlu dibina. Pembinaan mengenai barang dagangan yang harus bersih dan halal.  Garendong ikut membantu perekonomian namun tetap perlu pengawasan. Biasanya garendong memiliki ikatan kepercayaan dari pelanggannya yang membuatnya dipilih dari pada pasar tradisional,” tuturnya.

Untuk pembinaan,  Kepala Dinas Koperindag Kota Solok, Dedi Asmar mengaku saat ini belum ada pendataan terhadap pedagang keliling (garendong) baik yang menggunakan mobil maupun motor. “Karena rata- rata pedagang sayur keliling yang ada di Kota Solok adalah berasal dari Kabupaten Solok, jadi kita belum bisa pastikan berapa jumlah garendong yang ada di Kota Solok ini,” ujarnya.

Untuk saat ini keberadaan garendong tidak begitu berpengaruh dengan minat pembeli warga yang tetap ingin berbelanja ke pasar. Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Endrizal, menuturkan hadirnya pedagang tersebut malah memberi kemudahan bagi masyarakat terutama untuk akses perjalanan. “Saya rasa tak masalah,  asalkan tidak melanggar aturan saja,” ucapnya.

Untuk pembinaan terhadap pedagang gerondong, ia sebutkan,  secara umum sudah dilakukan imbauan,  agar tak menyeleweng dari aturan berdagang. Salah satunya, standar mutu barang dagangan harus bagus. Hadirnya pedagang gerondong memberikan kedekatan pelayanan bagi masyarakat.

Kepala Disperindag Koperasi dan UKM Pariaman Gusniyeti Zaunit menyebutkan kehadiran pedagang sembako keliling tidak bisa dihambat. Pasalnya selain menjangkau konsumen lebih dekat, mereka terkadang juga memanfakan teknologi dalam menjalankan usahanya.

Di antaranya menelepon konsumen, menanyakan jenis ikan atau barang apa yang dibutuhlan konsumennya. Sehingga barang dagangan yang ia beli sesuai dengan kebutuhan konsumen. “Namun saat ini kami belum memiliki data, jumlah pastiya. Kehadiran pedagang keliling ini dilema juga, kita perhatikan, khawatir pasar makin sepi, tidak diperhatikan, ya kondisinya seperti itu saja,” ujarnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co