Rabu, 22 November 2017, 08:46:29 WIB

Menelusuri Jejak Pejuang di Sungaipisang

10 November 2017 12:53:59 WIB - Sumber : Intan Suryani - Padang Ekpres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 53 kali

Sudah Dua Tahun Sepi dan Terabaikan

Meski identik dengan daerah pinggiran, diam-diam Sungaipisang juga menyimpan sejarah perjuangan. Buktinya, dapat disaksikan dari tiga makam sunyi di Kelurahan Teluk Kabung Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Beberapa tahun belakangan areal pemakaman ini terabaikan.

Dulunya awal-awal dibangun, monumen makam tiga pejuang ini kebanggaan bagi warga setempat. Tiap peringatan 17 Agustus selalu diadakan upacara bendera di areal makam ini. 

Namun beberapa tahu belakangan sudah tidak ada lagi. Pada momentum Hari Pahlawan 10 November ini, warga setempat berharap saksi sejarah ini kembali dibenahi. Bukan tidak mungkin bisa menjadi wisata sejarah alternatif di kawasan ini.

Saat Padang Ekspres menyambangi areal pemakaman ini kemarin, di tiga nisan masih terlukis jelas nama-nama para pejuang itu. Yakni, Kopral Hanafi, Sersan Robin Hood, dan Kopral Iskandar. Sayangnya, kondisinya tak terawat. Tembok pembatas setinggi setengah meter sudah hancur sebagian. Dinding beton bercat biru yang tersisa kadang dijadikan warga tempat menjemur kain.

Menurut cerita masyarakat setempat, dua kopral dan seorang sersan itu gugur Desember 1946. Monumen di areal pemakaman itu dibangun tahun 1988 dan diresmikan oleh anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

“Cerita nenek moyang saya, monumen ini dahulunya sebagai simbol untuk menghormati para pahlawan tersebut,” ungkap Jas Aji, 53, warga Sungaipisang sembari menunjuk makam tersebut. Kopral Hanafi, marinir angkatan laut ditugaskan menjaga sepanjang pantai Sungaipisang dari serangan penjajah dan Sekutu. Ia terbunuh oleh pasukan Belanda yang masuk ke daerah tersebut.

Saat itu, ceritanya, Kopral Hanafi diikat oleh Belanda di pohon kelapa tepi pantai sebelum ditembak mati. “Sekitar tahun 1945, ada posko angkatan laut di dekat pantai ini, penjaganya Kopral Hanafi dan Kopral Iskandar. Pada waktu itu perang sedang berkobar sampai akhirnya mereka dibunuh oleh Belanda,” ucapnya.

Kopral Iskandar, merupakan pejuang asal Pariaman. Ia terbunuh saat menyelamatkan diri. Berlari masuk ke dalam air dekat muara Sungaipisang. Dan tertembak pas sudah berada di dalam muara tersebut. “Semua penduduk sangat menghormati perjuangan dua pahlawan ini,” tambahnya.

Namun, bagaimana dengan Sersan Robin Hood? Ia ungkapkan,  sersan tersebut merupakan pasukan Belanda yang tertembak oleh Kopral Hanafi dan Kopral Iskandar. Sersan Robin Hood ditembak saat turun dari kapal. “Mayatnya ditinggal oleh pasukannya dan dibiarkan tergeletak di tepi pantai. Penduduklah yang menguburkannya tepat di pemakaman ini,” ujarnya.

Jauh sebelumnya, kondisi tepi pantai adalah hutan yang belum tersentuh. Rata-rata masyarakat masih tinggal di perbukitan. “Nenek moyang kami yang menemukan dan mengubur jenazah mereka dan disimbolkan dengan monumen ini,” terangnya.

Monumen menjadi simbol penting atas perjuangan tiga pejuang ini dalam membela Sungaipisang. Peresmian monumen dihadiri Wali Kota Padang kala itu, Syahrul Ujud dan dihadiri Gubernur Sumbar saat itu, Azwar Anas. “Bersama marinir angkatan laut Sumbar dan ABRI, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para pahlawan,” tandasnya.

Namun, katanya, belakangan monumen terabaikan. Dahulunya yang merawat adalah pasukan marinir dan hampir setiap tanggal 17 Agustus makam ini dibersihkan oleh anggota marinir. Setiap tahun juga diadakan upacara bendera di depan makam tersebut.

“Sudah dua tahun ini tidak ada lagi upacara bendera. Padahal tahun pertama diresmikan, penyelenggaraan upacara dipimpin oleh Jendral Angkatan Laut,” jelasnya.

Ia berharap monumen ini diperbaiki sehingga bisa menjadi wisata sejarah alternative di Sungaipisang. “Kami berharap perhatian pemerintah bisa melestarikan dan membangun kembali monumen ini sebagai bentuk penghargaan untuk para pejuang tersebut,” harapnya.

Lurah Teluk Kabung Selatan, Nurhayati menuturkan, monumen itu rusak disebabkan gempa bumi. Dia bersama warga siap melakukan goro guna membangun kembali monument tersebut. “Kami bersama warga sudah berdiskusi terkait perbaikannya. Yang jelas kami akan kumpulkan warga dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Pakar Sejarah dari Universitas Andalas (Unand), Gusti Anan mengaku pernah pernah mendengar tentang perjuangan di Sungaipisang. Tahun 1946 Kota Padang menjadi salah satu tempat pertempuran utama melawan Belanda.

Namun dia mengaku belum mempelajari secara keseluruhan terkait seluk beluk makam tiga pejuang tersebut. “Biasanya, semuanya sudah terdaftar dan dicatat sejarahwan,” ujarnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co