Rabu, 22 November 2017, 08:44:50 WIB

Kiprah Komunitas Begundal Rupa

11 November 2017 12:52:30 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 16 kali

Berharap Ada Ruang Khusus untuk Seniman Mural 

Lima tahun sudah Komunitas Begundal Rupa berkiprah di Sumbar. Sepanjang itu pula komunitas mural ini telah mewarnai sejumlah dinding-dinding di fasilitas umum di wilayah Sumbar. Seperti apa kegiatan Begundal Rupa yang memiliki arti nakal dalam memainkan seni rupa ini?

Seni mural sering kali dijumpai di ruang publik dengan simbol atau karakter yang penuh dengan coretan berwarna. Mulai tembok, jembatan, papan reklame, halte tak luput dari objek para seniman mural. 

DXX, 28, salah satu pendiri Begundal Rupa memandang mural sebagai tempat penyampaian aspirasi, provokasi sosial khususnya terhadap pemerintah. 

Ia sendiri, biasanya menggambar mural lebih ingin menunjukkan permasalahan sosial yang sedang terjadi. “Saya biasanya menggambar mural dengan simbol peace atau karakter dan tulisan bertemakan sosial. Saya pernah membuat mural bertuliskan diskriminasi not good,” ucapnya kepada Padang Ekspres, kemarin.

DXX sendiri mengaku seni muralnya lebih kepada street art dan sedikit nakal. Hal itu disebabkan, biasanya ia melakukan mural pada fasilitas umum atau tembok-tembok yang terabaikan. Ia melakukannya pada malam hari dan tanpa izin pemiliknya. Bahkan tak jarang, DXX sering dicari karena ulahnya yang melakukan mural di tempat umum tersebut. Tetapi baginya melakukan mural itu ada alasan sendiri. 

Menurutnya ia melakukan mural di fasilitas umum akan bisa dilihat pemerintah secara langsung. Dengan begitu akan timbul inisiatif pemerintah untuk menyediakan tempat khusus bagi para seniman mural.

“Yang kami lakukan ini sebuah pergerakan, penyadaran kepada pemerintah dan memperkenalkan seni mural kepada masyarakat lebih luas,” ucapnya sembari mengatakan mural merupakan karya seni yang berbicara. 

Ia ingin agar pemerintah mau melirik dan memperdayakan seniman lokal untuk membuat mural di fasilitas publik atau tempat lainnya. Ia menilai untuk space mural di Padang sangat banyak, lebih banyak dibandingkan senimannya. Tetapi space tersebut belum terlalu dikelola dengan baik.

“Saat ini kan sudah mulai muncul sedikit-sedikit kesadaran pemerintah tentang seni mural. Seperti di Simpang Kandang itu sudah ada seni muralnya, lalu di stasiun kereta api di bandara juga telah ada mural di sana,” lanjutnya.

DXX melanjutkan, melalui mural, ekspresi berkesenian yang dimilikinya bisa terlampiaskan meskipun penuh tantangan. DXX mengaku pernah ditangkap Satpam saat membuat mural di tiang kereta api kawasan Jati. Ia menilai tempat tersebut sudah tak terawat, jadi tidak ada salahnya digambarkan mural. 

Saat itu, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan dan ia ingin memeriahkan Hari Kemerdekaan dengan membuat mural di lokasi itu. Tidak hanya itu, DXX juga pernah membuat mural kontroversi di halte yang ada di Padang, bahkan ia sempat dicari karena ulahnya tersebut.

“Saya pernah membuat mural dengan gambar perempuan yang tidak menggunakan pakaian dan mural perempuan sedang memegang carano,” aku DXX yang tidak ingin disebutkan nama aslinya ini. Hal itu dilakukannya dengan sengaja, karena melihat banyak halte yang tidak terawat atau hanya sekadar dicat saja. Lebih baik menurutnya halte-halte tersebut dimural saja.

Untuk hobinya tersebut, DXX rela menghabiskan uang sakunya yang mencapai ratusan ribu rupiah untuk membuat mural di beberapa space  tempat. “Melengkapi cat bisa sampai Rp 500 ribu belum lagi tambah kuasnya, dengan dana segitu bisa membuat mural di empat space tempat,” katanya.

Pria berkumis ini mengaku telah membuat mural di 12 kota yang ada di Indonesia seperti Jambi, Palembang, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Bali. Ke depannya ia ingin membuat mural di seluruh nusantara.

Komunitas Begundal Rupa saat ini memiliki tiga orang anggota tetap. Ada beberapa persyaratan jika ingin menjadi anggota komunitas ini. Syaratnya, anggota harus memiliki pergerakan sendiri, bergerak sedikit liar dan street art.

Sekarang, komunitas ini telah memiliki galeri alternatif yang diberi nama Kamar Kos Kreatif House dan pada Desember nanti akan ada pameran mural di sana. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co