Rabu, 22 November 2017, 08:49:48 WIB

BKIPM Selamatkan Miliaran Kerugian Negara

15 November 2017 13:26:02 WIB - Sumber : Fajril Mubarak - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 7 kali

Pusat Karantina Ikan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan agar berbagai pihak bisa bekerja sama dalam upaya mencegah tindak kejahatan perikanan yang ada di Indonesia. Keberadaan perairan laut di Indonesia yang luas menjadi perhatian bagi pemerintah dalam hal ini KKP yang terus menekan upaya penangkapan ikan secara ilegal.

“Berkat kerja sama berbagai pihak di antaranya beberapa stasiun, BKIPM di Indonesia, sepanjang tahun 2017 hingga penghujung Oktober, BKIPM tercatat nilai nominal kerugian negara dari sektor komoditas perikanan yang akan diselundupkan ke luar negeri sudah bisa diselamatkan sebesar Rp330,6 miliar,” kata Kepala Pusat Karantina Ikan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Riza Priyatna, usai , BKIPM Goes to Campus 2017, di Universitas Bung Hatta, kemarin. 

Hadir pada kesempatan itu, Rektor UBH Azwar Ananda, Wakil Rektor I UBH Hendra Suherman, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBH Mas Eriza dan Kepala Stasiun KIPM Kelas I Padang, Sugeng Prayogo dan mahasiswa UBH.

Riza mengatakan nilai tersebut diakuinya didominasi dari sektor penyelundupan benih lobster sekitar Rp298 miliar. Selain itu komoditas udang yang akan diselundupkan melalui jalur darat dari Tembilahan Riau sebanyak 36 ton melalui darat dan laut akan diselundupkan ke Malaysia melalui pelabuhan tikus dengan modus yang rapi. 

“Kami terus tingkatkan pengawasan terhadap area bandara dan pelabuhan yang menjadi jalur paling efektif untuk penyelundupan. Termasuk pengawasan pelabuhan tikus yang berada di sepanjang pesisir Indonesia menghadap ke Malaysia berkoordinasi juga dengan pihak terkait dan masyarakat tentunya,” terang Riza Priyatna.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar, Yosmeri mengungkapkan setidaknya ada sekitar seribu lebih produk olahan ikan yang ada di Sumbar. Kehadiran produk olahan ikan ini sebagai upaya menghilangkan kejenuhan akan ikan sekaligus meningkatkan angka konsumsi ikan33,6 Kg perkapita per tahun.

“Saya sebutkan untuk jenis ikan lele saja, sekarang lele tidak hanya jadi makanan untuk pecel lele. Tapi sudah menjadi stick lele, kerupuk, lele asap, dan banyak lagi. Begitu juga untuk ikan tuna, ada yang membuatnya rendang, abon, kerupuk,crispy, dan juga masih banyak lagi jenis makanan olahan yang terbuat dari ikan,” katanya.

Yosmeri menyebutkan, sabagai bentuk dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan terhadap masyarakat yang melakukan olahan makanan ikan, memiliki beberapa usaha binaan. 

Binaan yang dilakukan seperti memberikan pelatihan terkait cara mengelola ikan untuk menjadi makanan yang baru, lalu juga memberikan pelatihan soal kemasan dan merek.

“Selama ini, ikan yang kita kenal dimasak, seperti gulai kepala ikan, goreng ikan lado hijau, pangek asin. Itu kan memang makanan yang sudah dikenal sejal dulu. Nah, melalui pelatihan dan binaan itu, turut melahirkan jenis makanan baru yang bahan-bahannya dari ikan juga. Saya sendiri mengapresiasi adanya pelaku usaha yang melakukan hal demikian,” ujarnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co