Selasa, 16 January 2018, 18:44:22 WIB

Kondisi Kawasan Saribu Rumah Gadang di Solok Selatan

03 December 2017 13:46:19 WIB - Sumber : Arditono - Padang Ekspres - Editor : Yogi Fernando    Dibaca : 37 kali

Belum Seluruhnya Direnovasi, Membutuhkan Sentuhan

Solok Selatan memiliki ratusan rumah adat Minangkabau di kawasan saribu rumah gadang (KSRG) di Nagari Kotobaru. Meski demikian, belum seluruhnya rumah gadang itu direnovasi. Bagaimana kondisi KSRG saat ini?

Berdasar sejarah dan tambo kaum delapan persukuan di Kawasan SRG, memiliki empat jorong. Yakni Jorong Lubukjaya, Kampuang Nanlimo, Bariang Kapalo Koto dan Bariang Rao-Rao. Dengan luas wilayah sekitar 10 hektare, dan jumlah penduduk sekitar 1.050 jiwa.

Di kawasan tersebut terdapat 146 unit rumah adat Minangkabau yang terlihat berjejeran. Rumah gadang tersebut merupakan warisan nenek moyang terdahulu, sebagai pusat adat masyarakat kaum di Kotobaru. Dibangun menumpuk, agar memudahkan para niniak mamak menggelar adat, upacara adat, kematian, resepsi pernikahan, musyawarah adat antar-sesama suku dan antar-sesama anak keponakan kaum. Bagi kaum yang berkemampuan zaman itu, punya dua atau tiga rumah gadang.

Kondisi saat ini, dari ratusan rumah gadang, 10 unit di antaranya dijadikan home stay (rumah inap) bagi para pengunjung wisata budaya dari berbagai daerah di Indonesia, dan sejumlah negara di dunia. Tapi sayang, ada sejumlah rumah gadang di kawasan kampung terpopuler itu tak terawat, bahkan dua atau tiga rumah gadang sudah menyatu dengan tanah.

Rumah gadang yang mengalami rusak berat tersebut seperti rumah gadang Dt Sutan Nahkodo, rumah gadang Dt Bando Panjang Suku Bariang. Rumah gadang Dt Tajo Parang Suku Bariang, rumah gadang Dt Rajo Kuaso Suku malayu, rumah gadang Rajo Koto Panjang Suku Bariang, rumah gadang Sampono Batuah, dan lainnya.

“Ketidakmampuan ekonomi kaum kami, rumah gadang ini tak terawat lagi. Sudah rusak dan lapuk di makan usia,” ungkap Sukmawati,43, anak keponakan Dt Sutan Nahkodo, Jumat lalu.

Katanya, Kementerian PU dan Pariwisata RI menjanjikan anggaran revitalisasi KSRG untuk 40 unit rumah gadang, termasuk rumah gadang ini. “Revitalisasi rumah gadang kami memakan anggaran sekitar Rp1 miliar. Namun dana sebesar itu, tidaklah tersanggupi oleh kaum pasukuan Dt Sutan Nahkodo,” katanya.
Kondisi terkini, dinding rumah gadang hampir tak terlihat lagi, sekap batas kamar rumah gadang sudah habis, lantai dan atap sudah lapuk dan tiris. ”Begitu pun sebagian tiang dan tangga rumah gadang, bahkan terlihat dijadikan tempat jemuran kain bagi anak keponakan suku setempat,” ungkapnya.

Sementara, Niniak Mamak, Sudirman Dt Rajo Lingkar Bulan dari Suku Caniago menyampaikan niniak mamak sudah membicarakan hal ini bersama Kerapatan Adat Nagari (KAN), agar rumah gadang dilestarikan kembali dan dikembalikan kepada fungsi semula. ”Setiap suku perlu merangkul anak keponakan masing-masing untuk merenovasirumah gadang yang mengalami kerusakan,” tuturnya.

Yuhelma, salah seorang penjaga rumah gadang ketika ditemui Padang Ekspres, mengaku tak menyangka kalau kampung halamannya, menjadi pusat tujuan wisata. “Sebelumnya hanya dijadikan rumah tinggal dan sepi. Sejak ditetapkan sebagai ikon wisata daerah, sudah dibanjiri ribuan pengunjung dari berbagai dearah,” kata ibu empat anak itu.

Sebelum populer, rumah gadang banyak tak terawat. Bahkan sebagian tidak dihuni, karena warga setempat merantau, atau bekerja di luar daerah. Sekarang sudah dijadikan semacam penginapan. “Semalam pengunjung dikenakan tarif dari Rp 150-250 ribu,” ucapnya.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Baru, Jalaludin Dt Lelo Dirajo menyebutkan, rumah gadang perlu dilestarikan. Banyaknya rumah gadang yang mengalami rusak berat dan sedang dalam kawasan, sudah diperbincangkan dalam musyawarah adat di KAN Kotobaru. Hal ini lebih dipicu ketidak kemampuan kaum dalan merehabilitasi rumah adat tersebut, sehingga dibiarkan saja lapuk.

“Jalan satu-satunya adalah, menjadikan rumah gadang sebagai cagar budaya. Sehingga perawatan dan pelestarian rumah gadang bisa dibantu pemerintah pusat,” katanya.

Sementara, Sekretaris Nagari Kotobaru, Andra Putra, mengatakan, masih banyak yang perlu dilengkapi di kawasan ini. Seperti penambahan home stay, sofa tamu, TV, dan tambahan kamar mandi.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solok Selatan, Budiman didampingi Kabid Budaya Bujang Basri menyebutkan, pembinaan dan pelatihan kepada 20 ibu-ibu termasuk pemuda sekitar kawasan wisata budaya ini, sudah lebih dari delapan kali. Tidak sekadar teori dan praktik lapangan menyambut pengunjung dan pelayanan di home stay.

“Jadi, pembinaan kembali ke rumah gadang dan memahami arti seorang figur dari pengelolaan home stay juga sudah dibekali bagi pengelola,” katanya.
Dari data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solok Selatan, rumah gadang yang tersisa di Solok Selatan hanya 591 unit. Di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) 57 unit, di Kecamatan Sungaipagu 332 unit, dan di Kecamatan Pauhduo 43 unit. 

Sedangkan di Kecamatan Sangir 39 unit, Kecamatan Sangir Jujuan 34 unit, di Kecamatan Sangir Balai ,Janggo 18 unit dan di Kecamatan Sangir Batang Hari sebanyak 68 unit.  Sebanyak 219 unit kondisinya baik, rusak ringan 115 unit, rusak sedang 136 unit, dan rusak berat sebanyak 121 unit. (***)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2018 Padek.co