Selasa, 16 January 2018, 18:50:04 WIB

Elegi Nelayan saat Cuaca Ekstrem

06 December 2017 14:46:40 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 30 kali

Alih Profesi hingga Berdayakan Istri

Cuaca ekstrem beberapa pekan terakhir memaksa sebagian besar nelayan di Kota Padang istirahat melaut. Untuk bertahan hidup, ada yang beralih profesi atau memberdayakan istri jadi pencuci piring di rumah makan. Seperti apa?

Slamet Sareko, 50, selayan di Batang Arau, menuturkan, hasil tangkapan nelayan saat cuaca ekstrem seperti sekarang sangat memprihatinkan. Terutama nelayan tradisional, yang menggunakan perahu kecil. Slamet menyebutkan penurunan hasil tangkapan nelayan tradisional sampai 98 persen.

Sebagai nelayan tradisional, Slamet yang memiliki perahu kecil, biasanya berangkat melaut Subuh lalu pulang pukul 09.00 pagi. Dalam satu hari penghasilan melaut minimal Rp 100 ribu dan maksimal Rp 300 ribu. Karena sering badai, penghasilannya melaut kerap nihil.

”Cuaca badai. Tentu tidak bisa pergi ke laut. Jadi penghasilan dari melaut tidak ada,” ucapnya sembari berharap badai segera berlalu.

Sisi lain, kondisi laut saat ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu nelayan tidak perlu jauh-jauh untuk pergi melaut. Cukup sekitar Muaro, ikan sudah banyak. Tetapi saat ini sangat jauh berbeda, ikan sudah jarang ditemukan.

”Dulu nangkap ikan tidak usah jauh-jauh, di seputaran Muaro saja sudah banyak ikan. Makanya waktu kelas enam SD saya memilih berhenti sekolah dan memilih melaut,” kata bapak lima anak ini.

Sekarang nelayan harus pergi jauh ke tengah laut, bahkan sampai ke pulau luar dari Sumbar. Nelayan tradisional harus melaut sejauh 2,5 mil sampai 3,5 mil untuk mendapatkan ikan. Tetapi ikan yang didapatkan nelayan pun hanya sedikit. Ditambah cuaca ekstrem akhir-akhir ini, sering hujan, badai membuat nelayan-nelayan yang memiliki perahu kecil enggan melaut.

Kendati demikian, Slamet telah menyiasatinya. Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab memberikan nafkah. Di saat cuaca badai, Slamet biasanya bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya juga membuat miniatur-miniatur. ”Dari hasil itu untuk menutup biaya hidup,” terang Slamet yang tidak ingin anaknya menjadi pelaut seperti dirinya.

Peralihan profesi itu lebih baik ketimbang mengancam keselamatan jiwa. ”Kebanyakan nelayan juga masih berpikiran habis sekarang besok dicari lagi. Karena itu banyak anak-anak nelayan ini yang tidak sekolah,” kata Slamet yang juga Ketua Nelayan Batang Arau itu.

Ceritanya, dulu musim dapat diprediksi. Seperti musim udang, terjadi tiga bulan sekali. Satu kali musim udang, para nelayan bisa mendapatkan 20 kilogram udang. Namun saat ini satu kilogram saja sudah untung. ”Seperti sekarang ini biasanya badai itu hanya tiga atau empat hari tetapi sekarang sudah tidak menentu lagi. Sudah tidak bisa diprediksi lagi,” katanya.

Nelayan di kawasan Purus, Asnul Amat, 60 mengaku, sudah hampir satu bulan tidak pergi melaut karena cuaca buruk. ”Sudah sebulan saya tidak ada pergi melaut karena cuaca sering badai. Biduk-biduk diikatkan ke pohon supaya tidak terbawa ombak,” kata Asnul sambil menunjuk biduk dekat pohon.

Asnul sendiri telah menjadi nelayan lebih dari 40 tahun, dan baru kali ini badai tidak berhenti selama satu bulan. Sembari kongkow di bawah pohon tepi pantai, ia mengaku tidak tahu gejala apa yang terjadi saat ini.

Menurutnya, biasanya badai terjadi saat ada bintang dan bulan bertemu. ”Kalau dulu pas bulan kalam sanjo badai itu terjadi. Tapi sekarang saya lihat sama saja, apalagi angin juga kencang,” ucapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untung Asnul dibantu oleh istrinya yang juga bekerja mencuci piring di salah satu rumah makan di pinggir pantai. ”Jadi istri saya yang mencari uang karena saya tidak bisa ke laut. Saya juga kasihan sama istri saya, tapi karena keadaan, ya bagaimana lagi,” ujar Asnul yang telah memiliki dua orang cucu ini.

Biasanya Asnul pergi ke laut setiap habis Shalat Subuh lalu pulang siang harinya. Per hari, ia bisa membawa hasil melaut sekitar Rp 200 ribu. Kadang kala, tidak membawa apa pun, karena tidak berhasil menangkap ikan.

Semakin hari ikan di laut semakin berkurang. Meskipun demikian, Asnul tidak tertarik untuk bekerja di darat, ia tetap setia dengan pekerjaannya sebagai nelayan. Baginya bekerja sebagai nelayan bebas waktu, tidak ada keterikatan.  ”Jadi nelayan jam berapa pun bisa pulang, kalau kerja bangunan ada waktu kerjanya,” sebutnya.

Hal yang sama juga dialami nelayan Purus lainnya, Nusirwan, 50. Selama cuaca badai dan angin kencang ia tidak bisa pergi melaut. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga istrinya bekerja di rumah makan. Kedua anaknya juga telah bekerja, sehingga ia tidak terlalu memikirkan biaya hidup.

Selama cuaca badai, para nelayan ini biasanya berkumpul di tepi pantai melihat perkembangan cuaca. ”Dengan cuaca seperti ini harus terima saja dan ikhlas. Bagi saya menjadi nelayan itu harus sabar kalau tidak bisa sabar tidak usah menjadi nelayan,” ungkapnya. Nusirwan juga menyebutkan, cuaca badai sekarang tidak menentu. Sehingga menyulitkan nelayan jika melaut. 

Ketua Komisi IV DPRD Padang, Surya Djufri Bitel meminta Pemko untuk memperhatikan nasib para nelayan yang tidak bisa melaut akibat cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Karena saat ini memasuki akhir tahun, kata Bitel, Pemko bisa meminta bantuan kepada Baznas dan Perusahaan-perusahaan BUMN maupun BUMD melalui program CSR nya.

”Ke depannya saya berharap Pemko menyiapkan semacam pelatihan keterampilan bagi nelayan. Sehingga, ketika mereka tidak bisa melaut, maka dengan keterampilan yang dimiliki itu, bisa dipergunakannya untuk mengais rezeki. Sehingga perekonomiannya tetap berjalan,” pungkasnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2018 Padek.co