Selasa, 16 January 2018, 18:43:58 WIB

Penuhi Gizi Buah Hati, Berbuah Rupiah

08 December 2017 13:57:40 WIB - Sumber : Novitri Silvia - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 67 kali

Rensi Purnama, Pengembang Mi Hidroponik

Mengkonsumsi mi instan tiap hari tak baik bagi kesehatan. Apalagi bagi anak-anak. Berawal rasa khawatir terhadap kebiasaan anaknya, Rensi Purnama membuat mi sendiri. Ia membuat mi hidroponik berbahan dasar sayur hidroponik. Kini produknya sudah jadi ladang bisnis.

Tak pernah terpikir oleh Rensi Purnama untuk berbisnis mi hidroponik. Ibu dua anak itu awalnya hanya berusaha mencari akal memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. Pasalnya, Adib Maulana, 7, anak pertamanya, tidak suka makan kecuali mi. Sementara Hana Aqilah, 4, si bungsu doyan sekali dengan sayuran.

Inilah yang mengilhaminya untuk membuat tanaman hidroponik di rumah. Niatan awal agar setiap hari dapat memetik sayur segar bagi si bungsu. Rensi kemudian bergabung dengan Komunitas Hidroponik Sumatera Barat (HSB) sejak 2016.

Rensi mulai belajar mengenal tanaman berwadah air sejak saat itu. Namun, baru mulai mengembangkan tanaman hidroponik di rumahnya sekitar 6 bulan lalu. Diakui Rensi, hal ini baru dapat dimulainya karena kesibukan suami sebagai pegawai negeri. Ditambah modal pembuatan modul hidroponik yang cukup mahal. Rensi harus berpikir ulang untuk mengembangkan tanaman hidroponik.

Bermodal awal Rp 2,5 juta, ia pun mulai merakit modul hidroponik sendiri di rumah. Perakitan dilakukan sendiri oleh suaminya, Ewin Sapriyanto. Belajar dari internet dan Youtube, Ewin mulai merakit pipa-pipa menjadi modul hidroponik yang memiliki 350 lubang. ”Jika dibeli jadi modul sebesar ini bisa seharga Rp 10 juta lebih. Jadi belajar bikin sendiri lewat internet dan Youtube,” ungkap Ewin.

Dari hasil tanaman tersebut, keluarganya bisa menikmati sayuran sehat setiap hari. Keinginan si bungsu terhadap sayur dapat terpenuhi. Seiring waktu, sayuran milik Rensi mulai berkembang dan lebat.

Setelah kebutuhan si bungsu terpenuhi, Rensi Purnama ”memutar otak” agar si sulung juga dapat makan mi tanpa khawatir menggangu kesehatan. Ia pun mencoba mengolah tanaman hidroponik menjadi mi.

”Si Abang (anak pertamanya, red) suka sekali makan mi. Kalau tiap hari makan mi kan tidak bagus untuk kesehatannya. Jadi saya coba mengolahnya menjadi mi yang bisa dimakan setiap hari oleh anak saya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di  Perumahan Hijau Regency Jalan SMPN 21 Kelurahan Kotolua, Kecamatan Pauh, Selasa (5/12).

Usaha tersebut ternyata dilirik dan diminiati beberapa temannya. Permintaan untuk mi hidroponik mulai banyak. Sehari ia bisa membuat sekitar 20 kilogram mi hidroponik kering dan basah.

Rensi mengolah sayuran samhong (sejenis sawi, red) hidroponik. Sayur diblender, kemudian, dicampur tepung dan digiling bersamaan menggunakan mesin. Selanjutnya dikeringkan sampai benar-benar kering menggunakan sinar matahari langsung atau dioven jika cuaca tidak bagus.

Menurutnya, pengeringan yang memakai oven harus menggunakan api kecil. Karena mi bisa cepat hangus jika menggunakan api sedang atau listrik. Butuh kesabaran ekstra dalam melakukannya. Jika menggunakan oven, lanjutnya, wangi pada mi lebih tercium dibanding menggunakan sinar matahari. Proses pengeringan tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Setelah itu dianginkan, baru dipaketkan (packaging).

Semuanya dilakukan sendiri dan dibantu oleh suami dalam pembukusan akhir. ”Biasanya suami saya bantu packaging-nya. Itu pun harus hati-hati, kalau tidak mi bisa patah semua,” terangnya.

Khusus mi basah prosesnya hampir sama. Hanya saja pada mi basah akan direbus terlebih dahulu dan ditiriskan baru kemudian di-packaging. Mi hidroponik kering dapat bertahan sekitar 2 minggu. Tidak menggunakan bahan pengawet ataupun tambahan lainnya. Sedangkan mi hidroponik basah hanya dapat bertahan selama 2 hingga 4 hari saja. Kandungan air membuat cepat berjamur dan harus segera diolah.

”Biasanya mi basah orderannya langsung ke rumah. Dan harus segera diolah agar tidak berjamur akibat kandungan airnya itu,” ucap Rensi.

Selain sayur samhong, ia juga mengolah sayuran hidroponik kale sebagai bahan utama pembuatan mi. Kebanyakan peminat mi hidroponik adalah vegetarian. Rensi mengaku pasarnya masih lewat online dan sekitar tempat tinggalnya.

Rensi juga mempromosikan usahanya itu melalui media sosial. Itupun sudah cukup membuat kewalahan. Untuk mengatasinya, ia hanya membuka order seminggu sekali agar dapat memenuhi semua pesanan.

”Pengiriman pesanan sudah sampai Medan dan Batam. Itu pun saya batasi seminggu sekali open ordernya. Rasanya kewalahan sekali memenuhi pesanan. Jadi daripada pelanggan kecewa karena tidak bisa terpenuhi, sebaiknya dibatasi,” katanya.

Produk yang diberi label Dapoer Abina itu, baru berjalan sebulan lebih. Tapi jangan salah, omzet yang dihasilkan cukup menggiurkan, bisa lebih dari 2 kali lipat. ”Semua itu setimpal jika dihitung dengan nilai kesabaran dan waktu yang lama dalam mengolahnya, serta kesehatan yang didapat,” jelasnya.

Usaha yang dirintis wanita 34 tahun itu tak sekadar mendatangkan rupiah, namun juga dapat memenuhi kebutuhan sayur keluarganya. Selain sehat ia juga dapat berbagi ilmu kepada masyarakat, bahwa tanaman hidroponik dapat bernilai ekonomi jika serius dalam pengolahannya. Sekaligus memperindah halaman rumah.

Rencananya ia akan membuka outlet sebagai tempat menyajikan langsung olahan mi tersebut. Namun ia masih terkendala tenaga untuk produksi. Sementara mesin pengering yang dapat meningkatkan hasil produksinya masih menggunakan oven biasa. Sehingga tidak dapat memenuhi permintaan pelanggannya.

”Sempat ditawari alat pengeringannya, cuma terlalu mahal, jadi saya harus kumpulkan dulu dananya. Kalau sekarang masih belum cukup. Kemarin juga sudah ditawari tempat untuk outlet-nya, rencana di sekitar kampus,” tuturnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2018 Padek.co