Selasa, 16 January 2018, 18:45:27 WIB

Korban Penggusuran Tinggal di Tenda

09 December 2017 13:53:12 WIB - Sumber : Rifa Yanas - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 17 kali

Satlantas Bantu Warga

Pascapenertiban bangunan di PT Kereta Api Indonesia (KAI), sejumlah warga terlihat menempati tenda-tenda. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena tidak memiliki uang untuk menyewa tempat tinggal.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga korban pengusuran PT KAI, jajaran Satlantas Polres Bukittinggi membagikan sembako di Stasiun Bukittinggi, Jumat (8/12).

Kasat Lantas Polres Bukittinggi, AKP Sukur Hendri Saputra mengatakan, secara pribadi maupun institusi dia merasa prihatin atas kesulitan yang dihadapi korban pengusuran. Atas dasar itu, dia bersama anggotanya mengumpulkan dana dan sembako untuk diserahkan kepada korban.

”Karena ada dapur umum, maka mereka sangat membutuhkan sembako untuk keperluan masak-memasak. Oleh karena itu, kita merasa terpanggil untuk membantu warga guna mengatasi kesulitannya,” kata Sukur usai menyerahkan bantuan sembako.

Dia menjelaskan, tidak semua warga korban pengusuran itu mampu secara ekonomi, bahkan banyak dari mereka itu warga kurang mampu. Sehingga, sampai saat ini mereka belum sanggup menyewa rumah tempat tinggal. Yang pada akhirnya mereka tinggal di tenda untuk sementara waktu.

”Kita ingin mengetuk pintu hati para dermawan untuk bersama-sama meringankan tangan membantu warga korban penggusuran. Karena, bagaimanapun juga mereka itu adalah warga kita yang perlu kita bantu,” jelas Sukur.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat H Anto berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan itu. ”Alhamdulillah bantuan yang diberikan ini akan menjadi obat bagi kita di saat kita kesulitan. Namun, selain sembako warga juga membutuhkan tenda,” terangnya.

Selain itu, dia berharap kepada PT KAI untuk memberi bantuan biaya pengantian rumah sebagaimana yang pernah dijanjikan. Karena, dengan adanya bantuan itu warga dapat kembali tinggal ditempat yang layak.  

Salah seorang warga korban penggusuran, Hadi mengaku saat ini tidak tahu di mana akan tinggal. Karena, dia tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah. Sementara alat rumah tangganya dititipkan di rumah sanak familinya.

”Ketika terjadi penggusuran, saya hanya menyelamatkan istri saya. Karena, saat ini istri saya sedang hamil tua. Saya tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah, untunglah malam ada saja orang yang memberikan uang dan terkumpul Rp 400 ribu. Uang itu lah yang saya pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Hadi.

Penderitaan warga penggusuran tidak hanya dirasakan orangtua saja, melainkan juga anak-anak yang masih dalam pendidikan ikut merasakan. Setiap pulang sekolah mereka harus berkumpul kembali di tenda dan tidak tahu di mana mereka akan belajar jika malam hari. Sebab, saat terjadi penggusuran mereka sedang menghadapi ujian sekolah.

Di hadapan anak-anak, Kasat Lantas memotivasi mereka agar tidak larut dalam kesedihan. Tidak baik terlalu lama meratapi kesedihan, anak-anak harus bersemangat karena perjalan masih panjang, jangan cepat putus asa. Bangkitlah kembali dan bersemangat selagi ada kemauan rezeki akan datang.

Di akhir pertemuan, Kasat lantas berjanji akan membantu kebutuhan sekolah mereka seperti buku-buku dan alat tulis. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2018 Padek.co